Obligasi masih menjadi pilihan pencarian dana

KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Pencarian dana melalui instrumen obligasi masih menjadi salah satu pilihan utama korporasi. Hal ini tercermin dari nilai penerbitan obligasi di kuartal satu tahun ini yang cukup besar. Bahkan, penerbitan obligasi sepanjang tahun ini berpotensi lebih besar dibanding tahun lalu.

Menurut data terbaru Bursa Efek Indonesia (BEI), ada 10 perusahaan yang bakal mencatatkan obligasinya di bursa. Total nilai emisi obligasi tersebut mencapai Rp 15,6 triliun.
Sehingga, bila dihitung sejak awal tahun, sudah ada emisi obligasi sebesar lebih dari Rp 35 triliun yang diterbitkan. Angka tersebut jauh lebih besar ketimbang nilai emisi obligasi sepanjang semester I-2017 yang hanya sekitar Rp 22,38 triliun.

Direktur Penilaian Perusahaan BEI Samsul Hidayat bilang, kesepuluh emiten tersebut sudah mengajukan rencana pencatatan atas penerbitan obligasi. “Kebanyakan memang perusahaan pembiayaan yang mau mencari dana dari masyarakat,” kata Samsul, Jumat (23/3).

Kepala Riset Ekuator Swarna Sekuritas David Sutyanto menilai, besarnya nilai emisi obligasi tahun ini, selain karena adanya kebutuhan dana, juga tak lepas dari efek kenaikan rating utang Indonesia oleh sejumlah lembaga pemeringkat internasional tahun lalu. “Rating naik, artinya risiko turun. Turunnya risiko itu turut memoles prospek emiten di dalamnya,” jelas David.

Proses yang lebih singkat juga masih menjadi salah satu alasan minat menerbitkan obligasi masih tinggi. Rentang waktunya singkat ketimbang harus menggelar initial public offering (IPO). “IPO bisa enam bulan, obligasi hanya butuh dua bulan, paling lama empat bulan,” imbuh David.

Meski demikian, tak bisa dipungkiri risiko pasar obligasi saat ini cukup besar. Dana asing terus keluar. Kurs rupiah juga belum bisa keluar dari tren pelemahan.

Jika kondisi itu terus terjadi, tak menutup kemungkinan Bank Indonesia (BI) menaikkan suku bunga acuan. Saat suku bunga acuan naik, kupon obligasi korporasi mau tidak mau bakal turut melesat supaya lebih menarik dibanding pinjaman perbankan.

“Tapi, untuk memitigasi risiko itu, emiten bisa menyiasatinya dengan menggunakan kupon fixed, bukan floating,” jelas David.

Hans Kwee, Direktur Investa Saran Mandiri, sependapat, risiko di pasar saat ini sedang meningkat. Sehingga, calon penerbit obligasi harus menawarkan sesuatu yang menarik guna mengompensasi risiko tersebut. “Yield yang ditawarkan harus lebih tinggi,” ujar Hans.

Hans masih optimistis pasar obligasi tetap menarik. Obligasi dari sektor perbankan dan pembiayaan masih layak diburu. Obligasi dari sektor komoditas seperti MEDC juga bisa menjadi pertimbangan.

Analis BCA Sekuritas Nyoman W Prabawa menilai positif sejumlah agenda refinancing yang tengah dijalankan MEDC. Hal ini merupakan upaya pengurangan jumlah kewajiban (deleveraging) yang tengah dijalankan MEDC demi neraca keuangan yang lebih baik.

Dalam risetnya per tanggal 22 Maret, Nyoman merekomendasikan buy saham MEDC dengan target harga Rp 2.500 per saham. Kemarin, saham MEDC ditutup melemah 10 poin atau setara sekitar 0,78% dan bertengger di Rp 1.280 per saham.

Karyawan melintas di depan layar monitor pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Mandiri Sekuritas, Jakarta, Rabu (21/3). IHSG ditutup menguat 1,11 persen atau 69,25 poin ke level 6.312,83. ANTARA FOTO/Sigid Kurniawan/kye/18.

Source : Klik Disini

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *