Rupiah loyo, cadangan devisa susut lagi

KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Dalam dua bulan terakhir, cadangan devisa Indonesia menyusut. Bank Indonesia (BI) mencatat, cadangan devisa negara kita akhir Maret lalu sebesar US$ 126 miliar, turun dibanding posisi akhir Februari yang mencapai US$ 128 miliar.

Salah satu penyebab penurunan cadangan devisa kita pada Maret lalu adalah operasi moneter. Bank sentral harus mengintervensi pasar lantaran rupiah melemah terhadap dollar Amerika Serikat (AS).

Data Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) BI memperlihatkan, rata-rata nilai tukar rupiah sepanjang Maret lalu Rp 13.761 per dollar AS. Pada Februari, rata-rata kurs rupiah terhadap dollar AS Rp 13.590,05.

“Penurunan cadangan devisa pada Maret 2018 terutama dipengaruhi oleh penggunaan devisa untuk stabilisasi nilai tukar rupiah di tengah meningkatnya ketidakpastian pasar keuangan global,” jelas Pejabat Kepala Grup Departemen Komunikasi BI Junanto Herdiawan dalam keterangan tertulis, Jumat (6/4).

Selain itu, cadangan devisa juga banyak terpakai untuk pembayaran utang luar negeri pemerintah. Namun, BI tak memerinci besaran penggunaan devisa untuk stabilisasi nilai tukar rupiah dan pembayaran utang luar negeri.

Tekanan utang

Tapi, BI menegaskan, angka cadangan devisa bulan lalu masih cukup tinggi dan mampu mendukung ketahanan sektor eksternal serta menjaga stabilitas makroekonomi juga sistem keuangan. Posisi cadangan devisa Maret setara dengan pembiayaan 7,9 bulan impor atau 7,7 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah.

Setelah menurun dua bulan berturut-turut, BI meyakini, cadangan devisa berpotensi meningkat pada bulan ini. Sebab, kebutuhan untuk intervensi pasar sudah berkurang. Deputi Gubernur Senior BI Mirza Adityaswara mengatakan, kenaikan suku bunga The Fed membuat tekanan mereda sehingga rupiah cenderung stabil. “Sejak 21 Maret, situasi stabil sampai sekarang pekan pertama April. Jadi, BI di bulan ini tidak perlu masuk ke pasar untuk lakukan stabilisasi,” ujarnya kemarin.

Eric Sugandi, Project Consultant Asian Development Bank (ADB) Institute, sependapat, kebutuhan untuk intervensi pasar pada bulan ini tidak akan sebesar bulan lalu. Soalnya, tekanan terhadap rupiah sudah mereda setelah kenaikan suku bunga The Fed. Apalagi, nilai tukar mata uang negeri uak Sam sedang melemah akibat perang dagang AS dengan China.

Cuma, Ekonom Bank Danamon Dian Ayu Yustina mengingatkan, memasuki kuartal dua, kebutuhan pembayaran utang luar negeri pemerintah biasanya meningkat. Ini akan menyedot ketersediaan dollar AS, sehingga bisa menekan kurs rupiah.

Source : Klik Disini

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *