LAPORAN POSISI KEUANGAN DAN LAPORAN PERUBAHAN EKUITAS (Bagian Pertama)

Tujuan Pembelajaran

Setelah mempelajari bab ini, diharapkan mahasiswa dapat:

  1. Memahami pengertian laporan posisi keuangan;
  2. Memahami kegunaan laporan posisi keuangan;
  3. Memahami unsur laporan posisi keuangan;
  4. Memahami pengklasifikasian asetl ancar dan liabilitas jangka pendek;
  5. Memahami pengungkapan untuk laporan posisi keuangan;
  6. Memahami tujuan dan kegunaan laporan perubahan ekuitas; dan
  7. Memahami pengungkapan dividen dan setoran modal.

Rujukan:

  • PSAK 1 (2014) Penyajian Laporan Keuangan
  • PSAK 4 (2014) Laporan Keuangan Tersendiri
  • PSAK 25 (2014) Kebijakan Akuntansi, Perubahan Estimasi Akuntansi, dan Kesalahan
  • Peraturan Bapepam dan LK No. VIII.G.7 Penyajian dan Pengungkapan Laporan Keuangan Emiten dan Perusahaan Publik

Majalah Forbes setiap tahun meneliti dan menyusun peringkat orang terkaya didunia, dan Asia Finance setiap tahun menyusun peringkat orang terkaya di Asia dan di Indonesia. Parameter yang digunakan untuk mengukur dan menentukan peringkat para hartawan tentunya tidak semata-mata dihitung dari jumlah nilai kekayaan atau harta yang dimiliki, melainkan seharusnya dari nilai kekayaan atau aset bersih, yaitu jumlah kekayaan atau harta setelah dikurangi dengan jumlah utang atau kewajiban seseorang. Demikian pula bila kita ingin menentukan berapakah nilai suatu entitas, antara lain yang penting untuk dihitung adalah jumlah harta neto atau aset neto yang dimilikinya. Untuk dapat menghitung parameter tersebut dengan baik, perlu disusun laporan posisi keuangan.

Laporan posisi keuangan (statement of financial position) lazimnya lebih dikenal sebagai neraca (balancesheet). Tapi istilah neraca seringkali menimbulkan kerancuan pengertian. Pengertian umum dapat diartikan keseimbangan.  Dalam bidang akuntansi, kata neraca mempunyai beberapa pengertian. Pengertian utama neraca dan paling sering diartikan sebagai laporan posisi keuangan. Tapi kata majemuk neraca lajur diartikan sebagai kertas kerja (worksheet) yang berlajur-lajur yang digunakan dalam penyusunan laporan keuangan.

Sebagaimana dijelaskan dalam bab sebelumnya, pada tahun 2007 IASB telah merevisi IAS 1 Presentation of Financial Statements dan memperkenalkan istilah “statement of financial position”. Sehubungan dengan konvergensi dengan IFRS, DSAK-IAI mulai memperkenalkan istilah “laporan posisi keuangan”, yang lebih mencerminkan makna informasi yang disajikan. Dalam PSAK 1, istilah “neraca” masih diperkenankan untuk digunakan.

Laporan Posisi Keuangan

Dalam Bab 4 telah dijelaskan pengertian posisi keuangan, unsur-unsur laporan posisi keuangan aset, liabilitas, dan ekuitas. Juga telah dijelaskan bahwa dalam laporan posisi keuangan jumlah aset haruslah seimbang dengan jumlah liabilitas ditambah ekuitas. Karena aset merupakan  jenis dan jumlah sumber daya yang diinvestasikan pada suatu entitas, sedangkan pada sisi lain liabilitas dan ekuitas menunjukkan komposisi dan jumlah sumber pendanaan atas aset, tentunya jumlah investasi dan sumber pendanaannya haruslah seimbang. Liabilitas menunjukkan sumber pendanaan dari pihak ketiga yang harus dibayar baik dalam bentuk uang, barang, atau jasa. Sedangkan ekuitas menunjukkan investasi atau kepemilikan pemodal entitas yang bersangkutan.

Tujuan dan Manfaat Laporan Posisi Keuangan

Laporan posisi keuangan berisi informasi tentang komposisi dan susunan aset, liabilitas, dan ekuitas dari suatu entitas ekonomi atau perusahaan atau entitas yang diperlukan untuk pemahaman dan menganalisis keadaan keuangannya. Untuk menilai dan mengelola suatu entitas dengan baik, perlu diketahui keadaan likuiditas dan solvabilitas entitas pada suatu waktu, sehingga dapat dipahami dengan baik fleksibilitas keuangan dalam menentukan kebijakan keuangan khususnya dalam menghadapi kesulitan arus kas.

Likuiditas

Tahun 1978 Pertamina mengalami kesulitan keuangan, yaitu tidak mampu membayar kewajiban yang telah jatuh tempo dan membelanjai kegiatan operasinya. Padahal saat itu Pertamina adalah perusahaan Negara satu-satunya yang berstatus istimewa karena memperoleh hak monopoli pengusahaan pertambangan minyak dan gas bumi di Indonesia. Monopoli tersebut mulai dari hulu sampai kehilir, yaitu eksplorasi sampai pada jaringan distribusi dan pemasaran kepada konsumen. Pada tahun 1970-an tersebut, harga minyak bumi dipasar global sangat baik. Bila disusun laporan laba rugi sesuai dengan standar akuntansi yang berlaku, pada saat itu Pertamina seharusnya menghasilkan laba usaha yang sangat baik. Tapi mengapa Pertamina pada waktu itu sampai tidak mampu membayar utang yang telah jatuh tempo? Ternyata Pertamina pada waktu itu telah melakukan ekspansi melampaui batas. Terutama membentangkan sayap dengan melakukan diversifikasi masuk keberbagai bidang usaha yang terlalu jauh dari inti jenis usahanya, antara lain melakukan investasi dibidang perhotelan, industri pupuk, pengangkutan udara, dan lain-lain. Pertamina, pada waktu itu, terlalu banyak menggunakan dana lancer untuk di investasikan dalam aset yang tidak lancar. Jadi, meskipun pada waktu itu dari segi rentabilitas Pertamina masih menghasilkan laba dan dari segi solvabilitas masih cukup memiliki sumberdaya untuk membayar semua kewajibannya, tapi dari segi likuiditas telah mengalami masalah berat. Pemerintah terpaksa turun tangan untuk menyelesaikan kewajiban yang telah jatuh tempo. Tahun 1978 pemerintah Indonesia melakukan tindakan moneter dengan mendevaluasi nilai rupiah.

Malasalah likuiditas sesungguhnya merupakan masalah yang sangat penting dan dapat mengancam kelangsungan hidup suatu entitas. Seringkali dikatakan bahwa suatu entitas yang mengalami kesulitan likuditas dapat dipersamakan dengan seorang yang menderita penyakit jantung koroner, setiap saat terancam bahaya serangan jantung, dan terdapat kemungkinan meninggal mendadak. Memang biasanya bila suatu entitas sedang menghadapi kesulitan likuiditas seringkali malah mendapat kesulitan untuk mendapatkan kepercayaan dari bank untuk memperoleh pinjaman, para rekanan dan pemasok juga mulai minta dibayar tunai. Sudah jatuh malah tertimpa tangga. Maka orang sangat berhati-hati dalam mengelola likuiditas entitas. Para pemangku kepentingan (stake holders) juga memberikan perhatian utama pada keadaan likuiditas entitas. Kreditor sangat peka tentang kemampuan entitas untuk membayar bunga dan pokok pinjaman tepat pada waktunya. Pemegang saham sangat kuatir apakah entitas mampu membayar dividen secara tunai. Pemasok dan  rekanan sangat  peka atas kemampuan langganannya untuk membayar kewajibannya tepat pada waktunya. Staf dan karyawan tentunya tak mengharapkan entitas menunggak pembayaran gaji dan atau bonus.

Bersambung … )

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *