LAPORAN POSISI KEUANGAN DAN LAPORAN PERUBAHAN EKUITAS (Bagian Kedua)

Apakah yang dimaksudkan dengan likuiditas?

Likuiditas adalah tersedianya dana kas dan saldo yang ada direkening bank yang tidak terikat dengan suatu pembatasan penggunaan baik peraturan ataupun suatu perjanjian, dan aset setara kas yang diperlukan untuk membayar liabilitas secara tepat waktu. Suatu entitas dikatakan likuid bila memiliki cukup dana tunai atau aset yang setiap saat dapat dikonversikan menjadi dana tunai untuk memenuhi liabilitasnya ketika jatuh tempo.

Untuk menentukan apakah suatu perusahaan cukup likuid, lazimnya dikenal beberapa parameter yang dihitung dan dianalisis berdasarkan data dan informasi yang disajikan dalam laporan posisi keuangan suatu perusahaan. Parameter tersebut adalah aset lancer (current assets), aset likuid (liquid assets), modal kerja (working capital), rasio likuiditas (likuidity ratio) antara lain rasio lancar (current ratio) dan acid test ratio atau quick ratio.

Aset Lancar (Current Assets) adalah dana tunai yaitu uang kas dan simpanan dibank yang bebas penggunaannya, aset lain yang dalam setahun atau siklus usaha normal akan terkonversi menjadi dana tunai, dan persediaan atau jasa yang tersedia untuk dimanfaatkan dalam siklus usaha normal.

Aset Likuid (Liquid Asset) adalah kas dan simpanan direkening bank serta dana tunai lainnya yang tidak disisihkan untuk tujuan tertentu (kecuali untuk pembayaran liabilitas jangka pendek) atau investasi yang setiap saat dapat dicairkan.

Modal Kerja (Working Capital) atau Aset Lancar Neto (Net Current Assets) yaitu total aset lancer dikurangi total liabilitas jangka pendek.

Rasio Lancar (Current Ratio) adalah rasio untuk mengukur kemampuan entitas untuk melunasi liabilitas jangka pendek ketika jatuh tempo. Dihitung dengan membandingkan aset lancer dengan liabilitas jangka pendek. Penggunaan rasio ini harus mengacu pada rasio standar rata-rata pada masing-masing industri.

Acid Test Ratio atau Quick ratio adalah rasio yang lebih tajam untuk mengukur kemampuan likuiditas suatu perusahaan, karena dalam perhitungan telah dikeluarkan faktor persediaan. Rasio ini dihitung dengan membandingkan total aset lancer setelah dikurangkan dengan jumlah persediaan dengan jumlah liabilitas jangka pendek.

Solvabilitas

Selain informasi likuiditas, pemangku kepentingan juga berkepentingan untuk mengetahui keadaaan solvabilitas entitas, yaitu kemampuan entitas untuk membayar semua liabilitas secara tepat waktu.

Krisis moneter 1997 telah melanda beberapa Negara di Asia Pasifik, khususnya Thailand, Korea Selatan, Malaysia, dan Indonesia. Yang menderita paling parah dan paling lama adalah Indonesia. Tidak kurang dari 37 bank harus diambil alih oleh Badan Penyehatan Perbankan Nasional (BPPN) karena tidak mampu memenuhi liabilitasnya kepada para nasabah dan kreditor. Sangat banyak perusahaan dan kelompok usaha konglomerat yang telah dilikuidasi, dijual atau diambil alih oleh investor domestic atau asing. Krisis moneter telah menimbulkan kesulitan bagi perusahaan yang tidak berhati-hati dan kurang bijak dalam membuat pinjaman dalam valuta asing. Terdepresiasinya Rupiah dengan sangat signifikan secara mendadak dalam waktu singkat, telah menyebabkan perusahaan yang sarat utang dalam valuta asing tanpa lindung nilai menjadi tidak lagi solvabel. Artinya perusahaan tidak lagi mampu melunasi liabilitasnya.

Solvabilitas (solvency) adalah kemampuan entitas untuk melunasi liabilitasnya. Lazimnya diukur dengan menghitung rasio solvabilitas (solvency ratio).

Rasio solvabilitas (solvency ratio) adalah rasio untuk mengukur jumlah relatifliabilitas yang digunakan suatu entitas untuk membelanjai kegiataan usahanya, terutama untuk mengukur kemampuan melunasi liabilitasnya.

Fleksibilitas Keuangan (Financial Flexibility)

Likuiditas  dan solvabilitas mempengaruhi fleksibilitas keuangan (financial flexibility),yang menentukan kemampuan entitas dalam pengambilan tindakan secara efektif untuk mengatur jumlah dan jadwal arus kas dalam menghadapi kebutuhan dan kesempatan yang tak terduga.

Suatu entitas yang telah sarat dibelanjai dengan liabilitas akan mengakibatkan kurang leluasa dalam mengambil keputusan dibidang keuangan. Sumber dana menjadi terbatas atau tidak tersedia untuk melakukan ekspansi, membelanjai kesempatan y·ang timbul atau melunasi liabilitas yang telah jatuh tempo. Suatu perusahaan dengan tingkat fleksibilitas keuangan yang tinggi secara relative akan lebih mudah bertahan menghadapi masa sulit, bangun kembali dari kerugian yang diderita, serta mengambil setiap kesempatan usaha yang tak terduga. Pada umumnya semakin besar fleksibilitas keuangan suatu perusahaan, maka semakin kecil risiko kegagalan.

Pengalaman krisis moneter 1997 menunjukkan bahwa disamping banyak perusahaan yang tersapu badai krisis moneter tersebut, tapi juga banyak perusahaan justru mendapatkan banyak kesempatan untuk melaju dengan pesat. Timbulnya banyak pengusaha muda yang sukses atau konglomerat baru setelah krisis moneter 1997 adalah mereka yang cekatan dan pandai menunggang gelombang pasang. Untuk itu diperlukan informasi keuangan yang canggih.

Dapat disimpulkan bahwa tujuan dan manfaat laporan posisi keuangan adalah memberikan informasi tentang keadaan keuangan suatu entitas  usaha pada suatu tanggal tertentu yaitu tentang komposisi aset, liabilitas, ekuitas, untuk menghitung dan menganalisis keadaan likuiditas, solvabilitas, fleksibilitas keuangan, serta arus kas, yang sangat diperlukan dalam pengambilan keputusan ekonomi oleh para pemangku kepentingan.

Unsur Laporan Posisi Keuangan

Laporan posisi keuangan terdiri atas tiga elemen utama : aset, liabilitas, dan ekuitas. Dalam Bab 2 kita telah memahami pengertian ketiga elemen tersebut sesuai yang dirumuskan dalam Kerangka Dasar Penyusunan dan Pelaporan Keuangan sebagai berikut:

Walaupun akuntansi menganut prinsip substansi lebih penting daripada bentuk (substance over form), tapi keberadaan suatu aset, liabilitas, dan ekuitas dan pengakuannya secara yuridis formal jelas berdasarkan hukum perdata dan hukum dagang yang berlaku. Kapan suatu aset yang diperoleh melalui transaksi jual beli dapat dikatakan telah berpindah kepemilikannya secara hukum, haruslah memperhatikan peraturan perundangan yang berlaku dan atau kebiasaan dalam dunia bisnis yang bersangkutan. Dalam hukum perdata dikenal perbedaan barang gerak dan barang tak gerak. Transaksi jual beli untuk barang gerak dan barang tak gerak masing-masing diatur secara tersendiri. Agar tidak salah membukukan dan melaporkan, diharapkan penyusunan laporan keuangan cukup memahami dasar-dasar pengetahuan hukum ekonomi dan bisnis.

Ilustrasi 5-3 Rincian dari Pos dalam Laporan Posisi Keuangan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *