KAS DAN PIUTANG (Bagian Pertama)

Tujuan Pembelajaran

Setelah mempelajari Bab ini, diharapkan mahasiswa dapat:

  1. Memahami definisi dan jenis Kas;
  2. Memahami pencatatan kas kecil;
  3. Memahami rekonsiliasi bank sebagai pengelolaan kas;
  4. Memahami definisi dan jenis Piutang;
  5. Memahami pengakuan awal Piutang;
  6. Memahami Penurunan Nilai Piutang; dan
  7. Memahami Penghentian pengakuan Piutang.

Rujukan

  • PSAK 50 (2010) Instrumen Keuangan: Penyajian
  • PSAK 55 (2011) Instrumen Keuangan: Pengakuan dan Pengukuran
  • PSAK 60 Instrumen Keuangan: Pengungkapan

Pendahuluan

Setelah bab sebelumnya telah memberikan pengenalan mengenai instrument keuangan yang tercakup dalam PSAK 50, 55, dan PSAK 60, pada bab ini akan dijelaskan secara lebih mendalam mengenai Kas dan Piutang. Aliran kas sangat penting dalam kelangsungan hidup entitas, sehingga ada pepatah yang mengatakan “Cash is the king!”

Sangat penting untuk entitas dapat mengelola kasnya dengan baik. Kas yang terlalu sedikit dapat menyulitkan likuiditas entitas karena banyak biaya-biaya entitas yang harus dibayarkan dengan tunai seperti pembayaran listrik, gaji karyawan, bahkan dividen tunai kepada pemilik modal. Sementara pendapatan entitas dapat saja lebih banyak yang berbentuk penjualan secara kredit. Apabila penjualan entitas banyak yang berupa kredit dan memiliki angka kredit macet yang tinggi maka likuiditas entitas dapat terganggu.

Sebaliknya bila entitas memiliki uang tunai yang terlalu banyak, hal ini juga kurang efisien karena uang tersebut dapat diinvestasikan dan mendapatkan imbalan investasi. Uang tunai entitas yang disimpan dalam rekening bank entitas biasanya hanya mendapatkan bunga bank yang sangat rendah dibandingkan bila uang tersebut diinvestasikan dalam deposito atau obligasi jangka panjang. Oleh sebab itu pengelolaan kas yang efisien menjadi hal yang penting bagi entitas.

Kas dan Setara Kas

Aset keuangan yang paling likuid adalah kas. Kas merupakan alat tukar dan biasanya menjadi dasar pengukuran dan pengakuan seluruh transaksi dalam laporan keuangan. Kas merupakan bagian dari aset keuangan sehingga sesuai dengan pengakuan aset keuangan lainnya, kas juga harus diakui sesuai dengan nilai wajarnya pada saat pengakuan awal. Karena kas adalah aset yang digunakan dalam jangka pendek maka nilai nominal kas dan setara kas biasanya juga merupakan nilai wajarnya dan tidak mengalami penurunan nilai. Ada sedikit pengecualian untuk setara kas yang akan didiskusikan lebih lanjut dalam sub bab ini.

Berikut ini adalah beberapa definisi yang penting untuk diketahui.

Kas terdiri atas saldo kas (cash on hands) dan rekening giro (demand deposits). Kas dapat berupa uang yang berada dientitas (kas kecil) maupun kas yang disimpan pada rekening bank (Bank) yang dapat diambil sewaktu waktu.

Kas kecil terjadi jika entitas biasanya melakukan transaksi pengeluaran uang dengan jumlah kecil. Entitas menggunakan kas kecil sebagai mekanisme pengendaliannya. Pengeluaran kas kecil misalnya untuk membeli perangko, materai, atau pembelian lainnya yang bersifat tidak material.

Bank Saldo Kas yang tersedia pada rekening entitas dibank yang dapat sewaktu waktu dipergunakan. Kas pada bank ini dapat juga berupa restricted cash atau kas yang dibatasi tujuan penggunaannya.

Restricted cash atau kas yang dibatasi adalah kas yang dicadangkan karena akan digunakan oleh entitas untuk tujuan tertentu yang telah ditetapkan. Contohnya adalah kas yang dicadangkan untuk pembayaran dividen, atau utang yang akan segera jatuh tempo.

Mengelola Kas Kecil

Setara kas adalah investasi jangka pendek yang siap dikonversikan ke kas dan dekat dengan tanggal jatuh temponya sehingga tidak memberikan risiko yang signifikan pada suku tingkat bunga. Namun, setara kas bukanlah kas. Tetapi dapat dikatakan setara kas karena dapat dikonversikan menjadi kas pada waktu dekat.

Entitas biasanya memiliki kas kecil yaitu sejumlah dana yang disimpan dalam kantor entitas untuk pembayaran tunai sehari hari yang bersifat insidentil. Kas kecil seharusnya tidak digunakan untuk suatu pembayaran rutin yang berulang dan dapat diprediksi. Untuk kegiatan tersebut entitas bisa melakukan pembayaran secara lebih sistematis. Contoh-contoh pembayaran dengan menggunakan kas kecil misalnya adalah untuk membeli makanan rapat untuk tamu yang dating tiba-tiba, membeli perangko atau materai, membayar tips untuk buruh angkut, dan lain-lain.

Terdapat dua sistem kas kecil, yaitu imprest (dana tetap) dan fluctuating (dana tidak tetap). Pada sistem imprest, pengakuan transaksi dilakukan ketika saldo kas kecil telah mencapai saldo minimumnya. Sedangkan pada sistem fluctuating, transaksi diakui ketika terjadi.

Misalnya entitas memiliki kas kecil sebesar Rp. 10.000.000 dengan saldo minimum yang harus ada didalam kas kecil sebesar Rp. 500.000.

Ilustrasi 8-1 Perbandingan Metode Imprest dan Fluctuating dalam Sistem Kas Kecil

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *