ASET TETAP (Bagian Pertama)

Tujuan Pembelajaran

  1. Setelah mempelajari bab ini, mahasiswa diharapkan dapat:
  2. Memahami sifat dan karakteristik aset tetap;
  3. Memahami pengakuan dan pengukuran aset tetap pada saat perolehan;
  4. Memahami pengukuran aset tetap setelah perolehan;
  5. Memahami sifat dan cara perhitungan penyusutan;
  6. Memahami model biaya dan model revaluasi;
  7. Mengaplikasikan model revaluasi jika terjadi kenaikan atau penurunan nilai wajar aset tetap;
  8. Menghitung penyusutan untuk aset tetap yang diukur dengan menggunakan metode revaluasi;
  9. Memahami akuntansi untuk penurunan nilai;
  10. Memahami akuntansi untuk penghentian pengakuan aset tetap; dan
  11. Mengimplementasikan pengungkapan yang tepat untuk aset tetap.

Rujukan:

  • PSAK 16 (2014) Aset Tetap
  • PSAK 13 (2014) Properti Investasi
  • PSAK 26 (2014) Biaya Pinjaman
  • PSAK 48 (2014) Penurunan Nilai Aset
  • PSAK 58 (2014) Aset Tidak Lancar yang Dimiliki untuk Dijual dan Operasi yang Dihentikan
  • PSAK 61 (2014) Akuntansi Hibah Pemerintah dan Pengungkapan Bantuan Pemerintah
  • ISAK 25 (2011) Hak Atas Tanah
  • ISAK 27 (2014) Pengalihan Aset dari Pelanggan
  • Peraturan Bapepam dan LKNo.  VIIIG.7 Penyajian dan Pengungkapan Laporan Keuangan Emiten dan Perusahaan Publik

Aset tetap, atau dulu dikenal sebagai Aktiva Tetap, merupakan salah satu aset utama entitas, terutama yang bergerak dalam bidang manufaktur, utilitas, pertambangan dan mineral dan beberapa industri lainnya. Akuntansi tentang aset tetap diatur dalam PSAK 16 yang merupakan konvergensi dari IAS 16 Property Plant and Equipment. PSAK 16 telah direvisi sejak tahun 2007 dan mulai berlaku efektif bagi entitas untuk periode pelaporan dimulai 1 Januari 2008. Selanjutnya pada tahun 2011 dan 2014, DSAK-IAI melakukan revisi terbatas atas PSAK 16 untuk disesuaikan dengan IAS 16 yang juga mengalami beberapa penyesuaian sejalan dengan perubahan pada IAS lainnya.

Sifat dan Karakteristik Aset Tetap

Semua entitas memiliki aset berwujud yang digunakan untuk mendukung  kegiatan operasional sehari-hari. Terdapat beberapa istilah untuk aset berwujud tersebut, yaitu aset tetap atau tanah, bangunan, dan peralatan (property, plant, and equipment), dan istilah yang sekarang digunakan adalah aset tetap.

Aset tetap adalah aset berwujud yang dimiliki untuk digunakan dalam produksi atau penyediaan barang atau jasa, untuk disewakan kepada pihak lain, atau untuk tujuan administratif; dan diharapkan untuk digunakan selama lebih dari satu periode.

  • Aset tetap adalah aset berwujud yang secara fisik dapat dilihat dan disentuh.
  • Dimiliki untuk digunakan dalam produksi atau penyediaan barang dan jasa dan tidak untuk dijual kembali. Hanya aset berwujud yang digunakan dalam kegiatan operasional sehari-hari yang dapat dikategorikan sebagai aset tetap, sedangkan aset yang berwujud yang akan dijual biasanya dikategorikan sebagai persediaan. Sebagai contoh: gedung yang digunakan untuk tempat pelaksanaan kegiatan entitas sehari-hari, dikategorikan sebagai aset tetap, gedung yang disewakan kepada pihak ketiga dikategorikan sebagai investasi property sesuai pengaturan dalam PSAK 13, sedangkan gedung yang dibangun untuk dijual kembali oleh entitas pengembang dikategorikan sebagai persediaan, sesuai pengaturan dalam PSAK 44 Akuntansi Aktivitas Pengembangan Real Estat.
  • Digunakan untuk waktu yang panjang, lebih dari satu periode akuntansi Aset tetap memberikan manfaat untuk masa lebih dari satu periode, dengan demikian, investasi atau biaya untuk perolehan aset tetap harus dialokasikan pada periode-periode dimana manfaat dari aset tersebut dapat diperoleh dan hal ini dilakukan melalui beban penyusutan secara periodik.

Berdasarkan sifat dan karakteristiknya, umumnya aset tetap dapat dikelompokkan sebagai berikut: tanah, tanah dan bangunan, mesin dan peralatan pabrik, peralatan dan perabotan kantor, serta kendaraan.

Jika dilihat dari perolehannya, aset tetap dapat diperoleh dengan berbagai cara, diantaranya melalui pembelian, dibangun sendiri, pertukaran, kombinasi bisnis, sewa atau hibah pemerintah. Berikut adalah cara perolehan aset tetap dan PSAK yang relevan.

Gambar 10-1 Perolehan Aset Tetap

Pembahasan Bab ini akan difokuskan pada perolehan aset tetap melalui pembelian, dibangun sendiri, pertukaran dengan aset non moneter lainnya, dan melalui hibah pemerintah. Pembahasan meliputi pengakuan dan pengukuran awal pada saat perolehan, pengukuran setelah pengakuan awal, penghentian pengakuan, serta pengungkapan.

Pengakuan dan Pengukuran Awal

Pengakuan Awal

Biaya perolehan aset tetap harus diakui sebagai aset jika dan hanya jika:

  • Besar kemungkinan rnanfaat ekonomis dimasa depan berkenaan dengan aset tersebut akan mengalir ke entitas; dan
    • Biaya perolehan aset dapat diukur secara andal.

Paragraf diatas menegaskan bahwa biaya perolehan suatu aset tetap hanya dapat diakui dalam catatan akuntansi entitas jika dan hanya jika biaya perolehannya dapat diukur secara andal dan memberikan manfaat ekonomis dimasa depan. Hal ini juga diterapkan untuk, jika setelah perolehan awal, terdapat biaya-biaya yang dikeluarkan untuk aset tetap tersebut. Hanya pengeluaran yang memenuhi syarat diatas, memiliki manfaat ekonomis masa depan dan dapat diukur secara andal yang dapat diakui sebagai bagian dari aset tetap. Pertimbangan yang hati-hati (prudent) diperlukan untuk menentukan apakah suatu biaya perolehan aset berwujud atau bagian dari aset berwujud dapat dikategorikan sebagai aset tetap atau tidak. Pertimbangan dalam penerapan criteria pengakuan ini harus disesuaikan dengan kondisi dari entitas, yang dapat diterapkan terhadap unit-unit secara individual atau secara agregasi.

Pengeluaran Modal versus Pengeluaran Beban

Biasanya pada setiap entitas, terdapat kebijakan batasan kapitalisasi biaya. Kebijakan ini ditujukan untuk pembelian aset berwujud yang walaupun memberikan manfaat ekonomi bagi entitas, yang biaya perolehannya dapat diukur secara andal, namun tidak dikategorikan sebagai aset tetap, karena nilainya yang tidak material bagi entitas tersebut. Tidak terdapat pengaturan khusus mengenai batasan material, namun sangat bergantung pada ukuran entitas itu sendiri.

Pembelian aset berwujud yang biaya perolehannya lebih besar dari batasan kapitalisasi, akan dicatat sebagai aset  tetap (pengeluaran modal), sedangkan untuk pembelian aset berwujud yang biaya perolehannya tidak lebih besar dari batasan kapitalisasi, langsung dicatat sebagai beban pada periode berjalan (pengeluaran beban). Untuk tujuan pengendalian atas pengeluaran untuk aset berwujud yang langsung dibebankan ini, entitas dapat menggunakan suatu daftar tersendiri yang lazim disebut Daftar Inventaris.

Suku Cadang dan Peralatan Pemeliharaan

Suku cadang dan peralatan pemeliharaan (service equipment) biasanya dicatat sebagai persediaan dan diakui dalam laporan laba rugi pada saat dikonsumsi. Namun terdapat beberapa kondisi, yaitu suku cadang telah memenuhi criteria pengakuan aset tetap, misalnya:

  • Suku cadang utama dan peralatan pemeliharaan dengan entitas memperkirakan akan menggunakan aset tersebut selama lebih dari satu periode. Biasanya suku cadang utama memiliki nilai yang cukup material.
  • Suku cadang dan peralatan pemeliharaan yang hanya bisa digunakan untuk suatu aset tetap tertentu.

Suku cadang dan peralatan pemeliharaan yang memenuhi criteria pengakuan aset tetap harus dicatat sebagai aset tetap dan disusutkan sama seperti aset tetap lainnya, jika telah memenuhi criteria penyusutan.

Aset Tetap Diperoleh untuk Alasan Keamanan atau Lingkungan

Suatu entitas yang karena sifat dan karakteristik bidang usahanya, harus memiliki suatu aset tetap yang tidak secara langsung memberikan atau meningkatkan manfaat ekonomis masa depan bagi entitas, namun keberadaan aset tersebut diperlukan agar entitas dapat memperoleh manfaat ekonomis masa depan dari aset tetap lainnya. Misalnya: entitas yang bergerak dalam industri kimia, diharuskan untuk memiliki peralatan pengolahan bahan-bahan kimia, khususnya bahan kimia berbahaya sedemikian sehingga bahan kimia tersebut tidak merusak lingkungan. Untuk itu entitas membangun pusat pengolahan limbah. Biaya perolehan terkait dengan pembangunan pengolahan limbah ini

memenuhi kualifikasi untuk diakui sebagai aset tetap, karena pengolahan limbah ini memungkinkan entitas untuk mendapatkan manfaat ekonomi lebih besar dari aset tetap entitas lainnya, dibandingkan dengan manfaat ekonomis yang dihasilkan seandainya pengolahan limbah tersebut tidak ada.

Biaya Perolehan

Nilai moneter dari suatu aset tetap dapat dibedakan atas 2 kelompok besar yaitu nilai moneter terkait dengan biaya yang dikeluarkan untuk mendapatkan aset tetap tersebut pertama kali dan biaya-biaya yang dikeluarkan setelah perolehan aset tetap, seperti: biaya perbaikan, biaya perawatan, biaya penggantian, dan biaya lainnya. Bagian ini akan membahas mengenai komponen dan pengukuran dari biaya yang dikeluarkan pada saat perolehan, yang selanjutnya akan disebut Biaya Perolehan.

Komponen Biaya Perolehan

Aset berwujud yang memenuhi kualifikasi untuk diakui sebagai aset tetap pada awalnya harus diukur sebesar biaya perolehan. Biaya perolehan aset tetap meliputi:

  • harga pembeliannya;
  • biaya-biaya yang dapat diatribusikan secara langsung untuk membawa aset tetap kelokasi dan kondisi yang diinginkan agar aset tetap siap digunakan sesuai dengan keinginan dan maksud manajemen; dan
  • estimasi awal biaya pembongkaran dan pemindahan aset tetap dan restorasi lokasi aset. Kewajiban atas biaya tersebut timbul ketika aset tersebut diperoleh atau karena entitas menggunakan aset tersebut selama periode tertentu untuk tujuan selain untuk menghasilkan persediaan.

Gambar 10-2 Komponen Biaya Perolehan

( Bersambung ….. )

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *