Banyak BUMN masuk list rentan bangkrut, ini penyebabnya

KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Beberapa hari lalu, Kementerian Keuangan (Kemenkeu) merilis sejumlah badan usaha milik negara (BUMN) yang masuk dalam daftar rentan bangkrut. Dari data itu diketahui, sektor aneka industri dan pertanian memiliki kinerja terburuk.

Direktur Jenderal Kekayaan Negara Kemenkeu Isa Rachmatarwata mengatakan, salah satu penyebab banyak BUMN aneka industri dan pertanian berada di zona merah lantaran kurangnya aset lancar pada perusahaan-perusahaan itu.

Selain itu, laba sebelum bunga dan pajak (EBIT) yang BUMN aneka industri dan pertanian kantongo tidak cukup untuk menghadapi tekanan perekonomian.

Oleh karena itu, pemerintah akan menggelontor tambahan modal berupa penyertaan modal negara (PMN) kepada BUMN yang mengalami financial distress. Sehingga,  bisa menjadi stimulus kinerja keuangan perusahaan-perusahaan itu.

Tentu, berbekal penilaian tersebut, Kemenkeu bisa lebih berhati-hati dalam memberikan PMN. Sebab, tujuan utama suntikan modal tersebut adalah menciptakan leverage dari setiap uang yang pemerintah injeksi kepada BUMN.  

Sebelumnya, Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati menyebutkan, indikasi kinerja keuangan yang buruk terlihat dari indeks Altman Z-Score. Skor rata-rata BUMN aneka industri berada di level 0, sementara BUMN pertanian negatif 0,4.

Itu berarti, perusahaan pelat merah di kedua sektor itu masuk zona merah. “Untuk sektor lainnya masih terbilang aman, rata-rata ada di zona kuning dan hijau,” kata Sri Mulyani dalam rapat kerja dengan Komisi XI DPR, Senin (2/12).

Z-Score untuk menilai kerentanan kondisi keuangan BUMN. Untuk cap merah alias financial distres artinya kondisi keuangan perusahaan sebelum terjadi kebangkrutan.

Nah, berdasarkan data Kemenkeu per 31 Desember 2018, sembilan BUMN aneka industri terancam gulung tikar. Mengacu perhitungan Altman Z-Score, berikut daftarnya:

  •  PT Dirgantara Indonesia (Persero) memiliki skor negatif 0,84
  • PT Pindad (Persero) ada di level 1,02.
  • PT Industri Kereta Api (Persero) 0,92 – PT Barata Indonesia (Persero) 0,83
  • PT Krakatau Steel (Persero) 0,47
  • PT Dok dan Kodja Bahari (Persero) negatif 1,72
  • PT Dok dan Perkapalan Surabaya (Persero) negatif 1,23
  • PT Industri Kapal Indonesia (Persero) 0,89
  • PT PAL Indonesia (Persero) negatif 0,1

Untuk BUMN pertanian yang masuk zona merah alias financial distress adalah:

Menteri BUMN Erick Thohir bersama Menkeu Sri Mulyani
  • PT Sang Hyang Seri (Persero) dengan skor negatif 14,02
  • PT Perkebunan Nusantara (Persero) sebesar 0,35
  • PT Pertani (Persero) 0,82.

Selain Altman Z-Score, Kemenkeu menggunakan dua rasio keuangan yakni return on equity (RoE) dan debt to equity ratio (DER). RoE adalah rasio kemampuan perusahaan untuk menghasilkan laba, sedang DER untuk mengukur kemampuan perusahaan membayar utang.

Sumber: Klik Disini

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *