OJK Siapkan Aturan Produk Investasi Baru

KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Bakal ada satu lagi produk investasi di pasar modal. Namanya waran terstruktur. Ini merupakan produk derivatif. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menargetkan aturan terkait produk ini bisa diimplementasikan pada pertengahan tahun depan.

Deputi Komisioner Pengawas Pasar Modal II OJK Fakhri Hilmi mengatakan, saat ini ketentuan mengenai produk ini dalam proses pembahasan dan penyusunan peraturan. Tahap ini juga melibatkan pelaku pasar modal, self regulatory organization (SRO) dan pemangku kepentingan lainnya.

“Seiring proses pembahasan dan penyusunan, sosialisasi awal dan juga penjajakan ke beberapa pelaku yang berminat sebagai penerbit atau pelaku transaksi juga dilakukan,” ujar Fakhri kepada KONTAN, Jumat (13/12).

Waran terstruktur sejatinya mirip dengan waran yang biasanya dikeluarkan saat initial public offering (IPO). Bedanya, kalau waran diterbitkan emiten, waran terstruktur diterbitkan perusahaan efek, bank umum atau pihak lain yang telah disetujui OJK, serta wajib memiliki peringkat.

OJK bersama anggota SRO lainnya saat ini tengah dalam proses mematangkan aturan soal waran terstruktur. Adapun poin-poin waran terstruktur terangkum dalam rancangan peraturan OJK (RPOJK) pasal 9.

Nantinya kewenangan untuk menentukan saham atau indeks apa saja yang dapat menjadi underlying dari waran tersruktur akan diserahkan ke BEI. “Tentu saja BEI akan mempunyai kriteria dalam memilih saham dengan mempertimbangkan risiko bagi pasar, jelas Fakhri.

Karena berbasis saham, waran terstruktur tentu memiliki risiko. Namun, menurut Fakhri, risiko berupa kerugian yang dialami saat transaksi waran terstruktur maksimum hanya sebesar premi.

Direktur Perdagangan dan Pengaturan Anggota Bursa BEI Laksono Widodo bilang, BEI tengah menyiapkan detail underlying waran terstruktur. “Underlying waran terstruktur nanti harus saham anggota IDX30,” imbuh dia.

Ketua Asosiasi Perusahaan Efek Indonesia (APEI) Octavianus Budiyanto menyambut positif rencana penerbitan waran terstruktur dengan underlying IDX30. Namun, ada beberapa catatan.

Salah satunya mengenai kewajiban modal kerja bersih disesuaikan (MKBD) penerbit sebesar minimal Rp 250 miliar dengan ketentuan kas dan setara kas minimum 25% dari MKBD. “Itu terlalu mahal,” kata Octavianus.

Sumber: Klik Disini

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *