Dongkrak laba, perbankan gencar cari pendapatan berbasis komisi

KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Sepanjang tahun 2019 perbankan kian gencar menggali potensi pendapatan berbasis komisi atau fee based income. Bukan tanpa sebab, di tengah tren penurunan bunga dan ekonomi yang menantang, pendapatan non bunga memang menjadi incaran bank untuk dapat tetap mencetak cuan.

Ambil contoh, PT Bank Negara Indonesia Tbk (BNI) misalnya yang mencatatkan pendapatan non bunga sebesar Rp 11,35 triliun di akhir 2019. Pencapaian tersebut tumbuh sekitar 18,1% dari periode setahun sebelumnya atau year on year (yoy).

Wakil Direktur Utama BNI Herry Sidharta mengatakan, bila dirinci pertumbuhan tersebut disumbang dari recurring fee yang naik sebesar 11,7% yoy menjadi Rp 11,11 triliun. Merujuk laporan keuangan BNI, fee terbesar berasal dari bisnis kartu BNI yang mencetak fee based income sebesar Rp 1,59 triliun atau naik 10,6% yoy. Lalu, disusul oleh fee dari trade finance yang mencetak pendapatan Rp 1,26 triliun di akhir tahun 2019 atau naik 4,8% yoy.

Sementara itu, pertumbuhan paling tinggi, terjadi pada perdagangan surat berharga BNI yang meraup fee based income sebanyak Rp 972 miliar, meningkat 86,9% yoy dari periode setahun sebelumnya Rp 520 miliar. 

“Kolaborasi BNI dengan beberapa fintech dan e-commerce juga mendukung pencapaian FBI,” tuturnya kepada Kontan.co.id, Minggu (26/1). 

Bank berlogo 46 ini menyebut, strategi yang diterapkan untuk menggali potensi pendapatan non bunga yakni dengan mengoptimalkan value chain dan transaksi nasabah.

Nah, di tahun 2020 ini, bank bersandi saham BBNI memasang target pendapatan non bunga dua digit. Herry bahkan optimistis bila pertumbuhannya akan setara dengan tahun 2019. Caranya, tak lain dengan strategi optimalisasi digital banking, dan menggandeng lebih banyak mitra.

Sedikit berbeda dengan BNI, PT Bank Mandiri Tbk justru mencatatkan pertumbuhan fee based income turun 3,45% yoy menjadi Rp 27,35 triliun per akhir 2019. Merujuk presentasi perusahaan, penurunan ini lebih disebabkan oleh menurunnya pendapatan lainnya yang turun 23,63% yoy dari Rp 11 triliun menjadi Rp 8,4 triliun.

Namun, Bank Mandiri justru merealisasikan fee based income dari perdagangan surat berharga yang naik 31,4% yoy disusul provisi dan komisi yang naik 9,24% yoy. 
Direktur Utama Bank Mandiri Royke Tumilaar menjelaskan pihaknya akan memanfaatkan basis nasabah korporasi yang besar.

Menurutnya, segmen ini masih memiliki banyak potensi terutama dari sisi transaksi untuk menghasilkan fee. “Kami akan dorong value chain dari nasabah korporasi, dan kedua dari wholesale yang punya potensi banyak akan kami tingkatkan terutama dari transaksi,” terang Royke.

Sayangnya, bank bersandi bursa BMRI ini tak menyebut berapa target pertumbuhan FBI di 2020.

Di sisi lain, PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BRI) justru merealisasikan pertumbuhan positif dari sisi pendapatan operasional. Merujuk presentasi perusahaan, total pendapatan non bunga mencapai Rp 27,55 triliun atau naik 21% yoy dari realisasi tahun sebelumnya Rp 22,77 triliun. Hal ini salah satunya didorong dari peningkatan fee dan komisi yang naik 20,1% yoy menjadi Rp 14,29 triliun.

Fee terbesar utamanya berasal dari biaya administrasi kredit sebesar Rp 4,91 triliun. Kemudian di susul dari biaya administrasi DPK sebesar Rp 4,02 triliun. 
“Melalui inovasi dan digitalisasi, BRI terus menciptakan sumber-sumber pendapatan berbasis non bunga untuk menjaga tingkat profitabilitas,” ujar Direktur Utama BRI Sunarso di Jakarta, Kamis (23/1) lalu.

Salah satu inovasi produk dan layanan yang memberikan dampak bagi pertumbuhan FBI adalah Agen BRILink. Hingga akhir tahun 2019, Bank BRI memiliki 422 ribu agen dengan transaksi mencapai 521 juta kali transaksi finansial dengan volume mencapai Rp 673 triliun.

Fee based income yang dihasilkan oleh agen BRILink tercatat mencapai Rp 788,7 miliar atau tumbuh 75% dibanding tahun lalu,” imbuhnya.

Sumber: Klik Disini

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *