ULASAN PERNYATAAN STANDARD AKUNTANSI KEUANGAN NO. 109(PSAK 109)

Oleh :Tri Prasojo, Akt.
Manager Operasional Kantor Jasa Akuntan ‘Andita Gunawan’ Tegal.

Kita lanjutkan lagi ulasan tentang Akuntansi Zakat dan Wakaf. Pada tulisan yang lalu saya telah menjelaskan peranan zakat bagi umat islam yang mempunyai nilai yang sangat strategis untuk pembangunan kemaslahatan umat. Ada dua lembaga yang mengurus pengumpulan/menerima dan menyalurkan zakat yaitu Baznas dari pemerintah non struktural, dan dari prakarsa masyarakat yang mempunyai aktivitas dakwah, Pendidikan sosial dan kemaslahatan masyarakat yang di debut Lembaga Amil Zakat (LAZ). Kedua lembaga Baznas dan Laz disebut AMIL, merupakan organisasi pengelola zakat yang pembentukanya dimaksudkan mengumpulkan dan menyalurkan zakat dan infak/sedekah.

Harus dibedakan dengan sebuah organisasi yang aktivitas utamanya bukan mengelola Zakat, akan tetapi ada unit kerja yang mengelola zakat. Misalkan sebuah Bank Syari’ah, ada unit yang mengelola zakat hal ini bukan disebut organisasi amil, karena tujuan utamanya bukan mengelola zakat, tujuan utamanya bank Syari’ah adalah bisnis perbankan ber basis Syari’ah. Mengapa hal ini penulis jelaskan demikian?. Fokus penulis yang akan di ulas adalah organisasi amil, karena metode pencatatan PSAK 109 hanya untuk organisasi amil. Sedangkan entitas Syari’ah yang tujuan utamanya bukan untuk menerima dan mengelola zakat dan infak/sedekah laporan keuanganya mengacu ke PSAK 101.

Zakat merupakan kewajiban syariah yang harus diserahkan oleh MUZAKKI (individu Muslim yang secara syariah wajib membayar/menuniakan zakat) kepada MUSTAHIQ (orang atau entitas yang berhak menerima zakat) baik melalui AMIL maupun secara langsung. Ketentuan zakat mengatur mengenai persyaratan NISAB, HAUL (baik yang periodik maupun tidak periodik), TARIF ZAKAT(qadar) dan PERUNTUKANNYA.

Siapa saja yang termasuk katagori mustahiq?.

Menurut Surat At-Taubah ayat 60

اِنَّمَا الصَّدَقٰتُ لِلۡفُقَرَآءِ وَالۡمَسٰكِيۡنِ وَالۡعٰمِلِيۡنَ عَلَيۡهَا وَالۡمُؤَلَّـفَةِ قُلُوۡبُهُمۡ وَفِى الرِّقَابِ وَالۡغٰرِمِيۡنَ وَفِىۡ سَبِيۡلِ اللّٰهِ وَابۡنِ السَّبِيۡلِ‌ؕ فَرِيۡضَةً مِّنَ اللّٰهِ‌ؕ وَاللّٰهُ عَلِيۡمٌ حَكِيۡمٌ
Innamas sadaqootu lilfuqaraaa’i walmasaakiini wal ‘aamiliina ‘alaihaa wal mu’al lafati quluubuhum wa fir riqoobi walghaarimiina wa fii sabiilil laahi wabnis sabiili fariidatam minal laah; wal laahu ‘Aliimun Hakiim.

Sesungguhnya zakat itu hanyalah untuk orang-orang fakir, orang miskin, amil zakat, yang dilunakkan hatinya (mualaf), untuk (memerdekakan) hamba sahaya, untuk (membebaskan) orang yang berhutang, untuk jalan Allah dan untuk orang yang sedang dalam perjalanan, sebagai kewajiban dari Allah. Allah Maha Mengetahui, Mahabijaksana.

Dari ayat tersebut bahwa yang termasuk mustahiq ada 8 golongan :

  1. Fakir
  2. Miskin
  3. Riqab
  4. Ghorim (orang yang terlilit hutang)
  5. Muallaf
  6. Fisabilillah
  7. Ibnu Sabil (orang dalam perjalanan)
  8. Amil (entitas pengelola Zakat Dan Infaq/sodaqah)

Sebelumnya penulis melangkah lebih jauh lagi, perlu diketahui bahwa fokus tulisan ini adalah membahas bagaimana menyajikan Laporan Keuangan pada sebuah entitas amil (pemungut dan pendistribusian zakat dan infak/sedekah) yang sesuai aturan standard akuntansi yang lazim dipakai di Indonesia. Apa perlunya menyusun Laporan keuangan untuk sebuah entitasentitas amil?

PENTINGNYA LAPORAN KEUANGAN.

Sebuah entitas baik yang bersifat profit/laba maupun non profit/non laba. Untuk sebuah entitas non profit setelah keluarnya ISAK 35 entitas non profit diganti menjadi entitas Non laba.
Fungsi entitas amil (Baznas dan Laz) telah dijelaskan sebelumnya berfungsi sebagai perencanaan, pelaksanaan, pengendalian dan pelaporan pengumpulan dan pendistribusian zakat dan infak/sodaqah.
Kinerja sebuah entitas zakat dan infak/sodaqah akan tercermin di dalam Laporan Keuangannya.
Pihak-pihak mana saja yang ber kepentingan dalam penggunaan laporan keuangan?. Ada dua kelompok kepentingan yang memerlukan laporan keuangan dalam hal ini yaitu :

  1. Pihak Internal (Entitas Amil- Baznas dan Laz).

a. Laporan ini digunakan untuk mengevaluasi kemampuan mendapatkan dana zakat dan infak/sodaqah dan sejauh mana pendistribusiannya.

b. Untuk mengetahui jumlah assets, jumlah kewajiban dan jumlah Saldo Dana Zakat, Saldo Dana Infak/sedekah, Saldo Dana Amil dan Saldo non Halal, pada periode akuntansi.

  1. Pihak Eksternal
    Dalam hal ini masyarakat terutama MUZAKKI (individu Muslim yang secara syariah membayar/menuniakan zakat).

Menurut penulis bahwa masalah zakat dan infaq/sodaqah adalah masalah sosial, dimana dalam perolehan dananya dipungut dari masyarakat, untuk transparansi laporannya sebaiknya laporan keuangan zakat dan infaq/sodaqah di umumkan di media sosial. Agar laporan keuangan tsb bersifat independent, maka sebaiknya dibuat oleh KANTOR JASA AKUNTAN (KJA).

FORMAT LAPORAN KEUANGAN AMIL (SESUAI PSAK 109).

Entitas AMIL dalam membuat laporan keuangan haruslah mengacu pada aturan akuntansi yang diterapkan di Indonesia yang dalam hal ini adalah PSAK 109.
Untuk itu maka laporan keuangan yang dibuat oleh entitas AMIL harus terdiri dari :

  1. NERACA (Laporan posisi keuangan)
  2. LAPORAN PERUBAHAN DANA.
  3. LAPORAN PERUBAHAN ASSET KELOLAAN.

4.LAPORAN ARUS KAS

  1. CATATAN ATAS LAPORAN KEUANGAN.

untuk isi penjelasan point-point di atas, akan penulis uraikan pada tulisan berikutnya.
BERSAMBUNG…..

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *