Strategi Merdeka dari Utang saat Kelola Uang

Jakarta, CNN Indonesia — 

Hari Ulang Tahun Republik Indonesia (HUT RI) yang diperingati setiap 17 Agustus selalu menjadi kilas balik mengenai momen kemerdekaan Tanah Air. Sebab, peringatan hari jadi ini merupakan penanda lepasnya Indonesia dari para penjajah. 

Namun, momen merdeka sejatinya bukan sekadar sejarah. Setiap Warga Negara Indonesia (WNI) bisa mewujudkan kemerdekaan di hidup masing-masing, salah satunya merdeka dalam mengelola keuangan sendiri. 

Menurut Perencana Keuangan Oneshildt Financial Planning Mohammad Andoko, ada banyak hal yang bisa menjadi tolak ukur dari merdeka di bidang pengelola keuangan pribadi. Mulai dari punya sumber pemasukan yang cukup, belanja yang tidak terlalu besar, arus kas yang stabil, dan lainnya. 

Continue reading “Strategi Merdeka dari Utang saat Kelola Uang”

Resesi Ekonomi di Depan Mata! Atur 5 Strategi Ini Agar Bisnis Bertahan

Seperti hujan dan musim kemarau di Indonesia, resesi ekonomi adalah tahap alami dari siklus hidup ekonomi. Dan seperti halnya musim apa pun dapat menghasilkan cuaca ekstrem, mengelola bisnis dalam resesi dapat menghadirkan tantangan unik bagi pemilik dan karyawan bisnis.

Tidak mungkin untuk memprediksi kapan resesi akan terjadi atau apa yang akan menyebabkannya. Tetapi ada beberapa gejala umum dari ekonomi tersembunyi yang memengaruhi bisnis, salah satunya adalah keadaan yang terjadi di dunia saat ini.

Diperparah dengan pandemi, saat ini resesi ekonomi sudah didepan mata. Gelombang PHK sudah terjadipenjualan produk dan daya beli masyarakat sudah menurun dan banyak lagi indikator yang menandakan bahwa Indonesia dan dunia sudah berada di tepi jurang resesi.

Continue reading “Resesi Ekonomi di Depan Mata! Atur 5 Strategi Ini Agar Bisnis Bertahan”

Potensi Krisis Ekonomi Setelah Positif Korona

KONTAN.CO.ID – Ternyata kabar buruk itu datang juga bagi Indonesia!. Setelah sekian lama mengklaim aman, akhirnya, Indonesia menjadi salah satu negara yang juga mengalami serangan virus Korona (Covid-19). Ini setelah pernyataan resmi pemerintah bahwa ada dua pasien perempuan di Depok, Jawa Barat, yang terinfeksi virus yang telah menewaskan ribuan orang dan menjangkiti puluhan negara di seluruh dunia.

Tak pelak, ini menjadi satu hantaman telak bagi perekonomian Indonesia. Kunjungan wisatawan dalam sektor pariwisata jelas akan dibatasi dan dengan demikian penurunan tak bisa dihindari. Barang impor akan lebih diseleksi, hingga bisa saja menimbulkan kelangkaan sejumlah produk. Masyarakat pun akan mengerem kegiatan berbelanja di luar kebutuhannya yang pada gilirannya akan menurunkan konsumsi dan pertumbuhan ekonomi secara keseluruhan.

Continue reading “Potensi Krisis Ekonomi Setelah Positif Korona”

ASET TETAP (Bagian Kedua)

Harga Pembelian

Harga pembelian adalah jumlah kas atau setara kas yang dibayarkan atau nilai wajar dari imbalan lain yang diserahkan untuk memperoleh suatu aset tetap pada saat perolehan atau konstruksi. Dengan demikian, harga pembelian adalah jumlah yang dibayarkan untuk mendapatkan aset tetap, termasuk bea impor dan pajak pembelian yang tidak boleh dikreditkan setelah dikurangi diskon pembelian dan potongan­potongan lain.

Pada pembelian aset tetap secara tunai, mudah untuk menentukan harga pembelian. Namun jika pembayaran kasnya ditangguhkan, maka harga perolehan adalah harga tunai aset pada tanggal pembelian. Perbedaan antara nilai tunai dan pembayaran diakui sebagai beban bunga pada saat pembayaran dilakukan, kecuali biaya pinjaman yang dapat dikapitalisasi jika memenuhi pengaturan dan persyaratan dalam PSAK 26 Biaya Pinjaman.

Continue reading “ASET TETAP (Bagian Kedua)”

ASET TETAP (Bagian Pertama)

Tujuan Pembelajaran

  1. Setelah mempelajari bab ini, mahasiswa diharapkan dapat:
  2. Memahami sifat dan karakteristik aset tetap;
  3. Memahami pengakuan dan pengukuran aset tetap pada saat perolehan;
  4. Memahami pengukuran aset tetap setelah perolehan;
  5. Memahami sifat dan cara perhitungan penyusutan;
  6. Memahami model biaya dan model revaluasi;
  7. Mengaplikasikan model revaluasi jika terjadi kenaikan atau penurunan nilai wajar aset tetap;
  8. Menghitung penyusutan untuk aset tetap yang diukur dengan menggunakan metode revaluasi;
  9. Memahami akuntansi untuk penurunan nilai;
  10. Memahami akuntansi untuk penghentian pengakuan aset tetap; dan
  11. Mengimplementasikan pengungkapan yang tepat untuk aset tetap.

Rujukan:

  • PSAK 16 (2014) Aset Tetap
  • PSAK 13 (2014) Properti Investasi
  • PSAK 26 (2014) Biaya Pinjaman
  • PSAK 48 (2014) Penurunan Nilai Aset
  • PSAK 58 (2014) Aset Tidak Lancar yang Dimiliki untuk Dijual dan Operasi yang Dihentikan
  • PSAK 61 (2014) Akuntansi Hibah Pemerintah dan Pengungkapan Bantuan Pemerintah
  • ISAK 25 (2011) Hak Atas Tanah
  • ISAK 27 (2014) Pengalihan Aset dari Pelanggan
  • Peraturan Bapepam dan LKNo.  VIIIG.7 Penyajian dan Pengungkapan Laporan Keuangan Emiten dan Perusahaan Publik

Aset tetap, atau dulu dikenal sebagai Aktiva Tetap, merupakan salah satu aset utama entitas, terutama yang bergerak dalam bidang manufaktur, utilitas, pertambangan dan mineral dan beberapa industri lainnya. Akuntansi tentang aset tetap diatur dalam PSAK 16 yang merupakan konvergensi dari IAS 16 Property Plant and Equipment. PSAK 16 telah direvisi sejak tahun 2007 dan mulai berlaku efektif bagi entitas untuk periode pelaporan dimulai 1 Januari 2008. Selanjutnya pada tahun 2011 dan 2014, DSAK-IAI melakukan revisi terbatas atas PSAK 16 untuk disesuaikan dengan IAS 16 yang juga mengalami beberapa penyesuaian sejalan dengan perubahan pada IAS lainnya.

Continue reading “ASET TETAP (Bagian Pertama)”

PERSEDIAAN

Tujuan Pembelajaran

Setelah mempelajari bab ini, mahasiswa diharapkan dapat:

  1. Menjelaskan definisi dari persediaan
  2. Memahami permasalahan pokok akuntansi persediaan
  3. Membedakan antara metode pencatatan periodek dan perpetual
  4. Memahami dampak kesalahan akuntansi persediaan atas laporan keuangan
  5. Memahami biaya-biaya yang termasuk dalam komponen biaya perolehan persediaan
  6. Menjelaskan dan membandingkan asumsi arus biaya
  7. Memahami nilai realisasi bersih (NRB)/net realizable value (NRV) dan mengaplikasikan aturan yang terendah antara biaya perolehan dan nilai realisasi bersih
  8. Memahami metode estimasi persediaan
  9. Membuat penyajian dan pengungkapan persediaan, dan
  10. Memahami perbedaan antara PSAK dan IFRS mengenai Persediaan

Rujukan

IAS 2 Inventory

PSAK 14 (2014) Persediaan

PSAK 26 (2014) Biaya Pinjaman

Pendahuluan

Dalam era globalisasi dan sangat pesatnya perkembangan teknologi informasi, komunikasi dan transportasi, tampaknya ruang gerak dan waktu yang tersedia bagi

dunia usaha menjadi semakin leluasa, tapi sebenarnya persaingan menjadi semakin ketat. Konsumen ditawarkan terlalu banyak pilihan barang dan jasa kebutuhan, dan juga berbagai barang dan jasa yang sebenarnya tak diperlukan dalam beragam jenis, tipe, corak, ukuran, kapasitas, kualitas, da nharga. Baik untuk kebutuhan sandang, pangan, pemmahan, transportasi, komunikasi, jasa perjalanan, pelayanan kesehatan, sampai ke dunia pendidikan dan kerohanian. Semua barang yang diperdagangkan atau digunakan dalam proses produksi atau pelayanan jasa adalah persediaan. Sumber daya (bahan, tenaga, pengetahuan, ruang, dana) semakin langka dan mahal. Sedangkan perkembangan teknologi dan selera konsumen yang sangat pesat menyebabkan barang cepat menjadi usang. Persaingan didunia usaha menjadi semakin tajam. Mulai dari pasar barang konfeksi, sepatu, handphone, personal computer, sampai keindustri otomotif.

Continue reading “PERSEDIAAN”

KAS DAN PIUTANG (Bagian Kedua)

Rekonsiliasi Catatan Bank

Pengelolaan kas pada entitas biasanya melibatkan bank karena sangat berisiko menempatkan uang tunai yang besar didalam kantor entitas. Oleh sebab itu biasanya entitas memiliki mekanisme pengelolaan kas, misalnya kas yang diterima disetorkan ke Bank setiap hari atau seminggu sekali. Untuk menggunakan dana kas dibank tersebut entitas dapat menggunakan sarana transfer, kartu ATM atau menggunakan cek.

Bank memberikan laporan bank secara periodic kepada pelanggannya. Terkadang, terdapat perbedaan pencatatan antara bank dan entitas. Hal ini terjadi karena adanya perbedaan cut-off pencatatan antara bank dan entitas dan kesalahan pencatatan. Entitas biasanya membuat laporan rekonsiliasi bank untuk mencocokkan saldo kas yang ada direkeningnya dan saldo kas dalam catatan entitas.

Istilah-istilah terkait laporan rekonsiliasi bank

Continue reading “KAS DAN PIUTANG (Bagian Kedua)”

KAS DAN PIUTANG (Bagian Pertama)

Tujuan Pembelajaran

Setelah mempelajari Bab ini, diharapkan mahasiswa dapat:

  1. Memahami definisi dan jenis Kas;
  2. Memahami pencatatan kas kecil;
  3. Memahami rekonsiliasi bank sebagai pengelolaan kas;
  4. Memahami definisi dan jenis Piutang;
  5. Memahami pengakuan awal Piutang;
  6. Memahami Penurunan Nilai Piutang; dan
  7. Memahami Penghentian pengakuan Piutang.

Rujukan

  • PSAK 50 (2010) Instrumen Keuangan: Penyajian
  • PSAK 55 (2011) Instrumen Keuangan: Pengakuan dan Pengukuran
  • PSAK 60 Instrumen Keuangan: Pengungkapan

Pendahuluan

Setelah bab sebelumnya telah memberikan pengenalan mengenai instrument keuangan yang tercakup dalam PSAK 50, 55, dan PSAK 60, pada bab ini akan dijelaskan secara lebih mendalam mengenai Kas dan Piutang. Aliran kas sangat penting dalam kelangsungan hidup entitas, sehingga ada pepatah yang mengatakan “Cash is the king!”

Continue reading “KAS DAN PIUTANG (Bagian Pertama)”

PENGENALAN INSTRUMEN KEUANGAN (Bagian Kedua)

Definisi Instrumen Keuangan

Aset Keuangan

Menurut PSAK 50, aset keuangan adalah setiap aset yang berbentuk:

1.        Kas, seperti mata uang lokal dan asing dan deposito dibank;

2.        Instrumen ekuitas yang diterbitkan entitas lain, seperti investasi saham pada entitas yang terdaftar di bursa;

3.        Hak kontraktual;

  • Untuk menerima kas atau aset keuangan lainnya dari entitas lain, seperti piutang usaha dan wesel tagih; atau
  • Untuk mempertukarkan aset keuangan atau liabilitas keuangan dengan entitas lain dengan kondisi yang berpotensi menguntungkan entitas tersebut, seperti obligasi konversi yang memberikan hak kepada pemegang obligasi untuk mengkonversi obligasi tersebut dengan kepemilikan saham pada entitas penerbit obligasi dan sebaliknya menimbulkan kewajiban kontraktual bagi penerbit obligasi untuk menyerahkan saham kepada pemegang obligasi; atau

4.        Kontrak yang akan atau mungkin diselesaikan dengan menggunakan instrument ekuitas yang diterbitkan oleh entitas dan merupakan:

  • Nonderivatif dimana entitas harus atau mungkin diwajibkan untuk menerima suatu jumlah yang bervariasi dari instrument ekuitas yang diterbitkan entitas, seperti kontrak untuk menerima jumlah yang bervariasi dari instrument ekuitas entitas yang setara dengan 10 kg emas; atau
  • Derivatif yang akan atau mungkin diselesaikan selain dengan mempertukarkan sejumlah tertentu kas atau aset keuangan lain dengan sejumlah tertentu instrument ekuitas yang diterbitkan entitas.  Untuk tujuan ini, instrument ekuitas yang diterbitkan entitas tersebut tidak termasuk instrument yang merupakan kontrak untuk menerima atau menyerahkan instrument ekuitas yang diterbitkan entitas tersebut dimasa depan.

Kas adalah bagian dari aset keuangan, sebab kas merupakan alat tukar dan dasar bagi pengakuan dan pengukuran seluruh transaksi dalam laporan keuangan. Setoran tunai pada bank atau institusi serupa juga merupakan aset keuangan, sebab setoran tunai memberikan hak kontraktual bagi deposan untuk memperoleh kas dari institusi tersebut atau melakukan penarikan melalui cek atau instrument serupa untuk melunasi liabilitas keuangannya kepada kreditur.

Continue reading “PENGENALAN INSTRUMEN KEUANGAN (Bagian Kedua)”