Risiko likuiditas bank kecil paling tinggi

KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Risiko likuiditas bank kecil kelompok Bank Umum Kelompok Usaha (BUKU) I paling berisiko. Padahal jika dilihat sampai Juni 2018, berdasarkan data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) loan to deposit ratio (LDR) kelompok bank dengan modal inti di bawah Rp 1 triliun ini paling rendah dibandingkan kelompok bank lain.

LDR bank BUKU I berada di level 79,7% paling rendah dibandingkan bank BUKU II yang berada di level 89%, bank BUKU III di 99% dan juga dari bank BUKU IV yang berada di level 89%.

Anton Gunawan Kepala Ekonom Bank Mandiri mengatakan, risiko likuiditas tidak sama antara kelompok bank satu dengan yang lain. Bank kecil seperti BUKU I memang mempunyai risiko likuiditas lebih tinggi karena likuiditas di perbankan masih tersekat-sekat. Risiko BUKU I ini terkait keleluasaan untuk mengatasi risiko likuiditas dengan melakukan repo.

Anton mencatat sampai Juni 2018, kepemilikan obligasi dan treasury bill atau surat utang jangka pendek mayoritas sebesar 52% ada di bank BUKU IV dan 33% ada di bank BUKU III. Sementara di bank BUKU II hanya 8% dan di bank BUKU I cuma 2%.

Rendahnya kepemilikan obligasi dan treasury bill di BUKU I ini membuat bank kecil yang mengalami kesulitan likuiditas karena mereka akan susah mendapatkan suntikan dana dari repo surat berharga. Selain itu BI juga akan susah melakukan injeksi likuiditas karena surat berharga dan treasuty bill yang rendah di BUKU I ini. Continue reading “Risiko likuiditas bank kecil paling tinggi”

Juli 2018, kredit masih tumbuh 10,5%

KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Bank Indonesia (BI) mencatat pertumbuhan kredit Juli 2018 sebesar 11% secara tahunan atau year on year (yoy). Angka ini membaik dibandingkan Juni 2018 sebesar 10,5% yoy.

Agusman, Direktur Departemen Komunikasi BI, mencatat pendorong pertumbuhan kredit ini adalah kenaikan kredit modal kerja dan kredit konsumsi. “Sampai Juli 2018, pertumbuhan kredit modal kerja 11,5% dan kredit konsumsi 11,3% yoy,” ujar Agusman, akhir pekan lalu.

Jika melihat dari golongan debitur, sektor korporasi merupakan salah satu penyumbang utama, yaitu 12,7% yoy. Sedangkan untuk sektor, kredit modal kerja dari perdagangan, pengolahan di industri kelapa sawit, pengolahan pupuk dan kimia.

Untuk kredit konsumsi pertumbuhan didorong oleh bisnis kredit pemilikan rumah (KPR) yang tumbuh 13,7 yoy. Lalu kredit kendaraan bermotor (KKB) yang tumbuh 12,5%. Sedangkan kredit multiguna tumbuh 113,8% yoy.

Peningkatan juga terjadi pada kredit properti yang naik 15,1% yoy dan kredt real estat khususnya gedung dan mall perbelanjaan.

Kenaikan kredit dirasakan CIMB Niaga. Bank ini mencatat realisasi kredit sindikasi sampai Juni 2018 sebesar Rp 14,3 triliun. Angka ini naik 48,5% yoy. Frans Alimhamzah, Direktur Bisnis Banking CIMB Niaga, mengakui, sampai Juni 2018 CIMB Niaga masuk sebagai peringkat dua terkait jumlah penyaluran kredit sindikasi.

Source : Klik Disini

Penyaluran kredit investasi belum ngegas

KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Penyaluran kredit investasi masih berjalan lambat. Berdasarkan analisis uang beredar Bank Indonesia (BI) per Juni 2018, terjadi pertumbuhan penyaluran kredit investasi sebesar 9,4% secara year on year (yoy) menjadi Rp 1.218,2 triliun dari Rp 1.113,9 triliun. Angka ini menjadi pencapaian tertinggi semenjak awal 2017.

Direktur Utama Bank Mayapada Hariyono Tjahjarijadi menyatakan, kinerja kredit investasi di Mayapada menyerupai tren industri. Pendukungnya praktis di semua sektor. Ke depan masih tergantung situasi dan kondisi ekonomi. “Namun seharusnya lebih baik lagi,” ujar Hariyono, Rabu (29/8).

Parwati Surjaudaja, Direktur Utama Bank OCBC NISP mengatakan hingga saat ini kredit investasi tumbuh dobel digit. Penyokongnya hampir semua sektor. Meski begitu, pertumbuhannya masih di bawah pertumbuhan kredit modal kerja. “Kami melihat proyeksi kredit investasi hingga akhir tahun relatif tidak lebih cepat dibandingkan semester 1 tahun ini,” ujar Parwati, Rabu (29/8).

Meski demikian, Parwati menyatakan secara keseluruhan, kredit investasi ini tetap dapat tumbuh dobel digit hingga akhir tahun. Continue reading “Penyaluran kredit investasi belum ngegas”

OJK rilis aturan perbankan digital, ini tanggapan bankir

KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) resmi mengeluarkan peraturan OJK (POJK) mengenai penyelenggaraan layanan perbankan digital oleh bank umum. Aturan ini tertuang dalam POJK No. 12/POJK.03/2018.

POJK ini dikeluarkan pada 6 Agustus 2018. Dalam POJK ini diatur mengenai beberapa layanan digital banking seperti video banking dan layanan pengajuan kredit rumah kepada nasabah.

Selain itu bank juga bisa membuka layanan pengajuan kredit perumahan ke nasabah. Layanan ini bisa melalui aplikasi dengan otorisasi transaksi dengan sidik jari.

Terkait PJOK ini, Bank Tabungan Pensiunan Nasional Tbk (BTPN) yang sudah memiliki produk digital yakni Jenius dan BTPN Wow akan melakukan penyesuaian.

Direktur Keuangan, Treasury & FI dan Pendanaan BTPN Arief Harris Tandjung menyatakan aturan ini akan mendorong perkembangan Jenius ke depan.

“Ke depan kami terus meningkatkan layanan Jenius. Bisa saja yang sekarang bagus, bisa jadi biasa saja tiga bulan lagi. PJOK ini memberikan ruang yang leluasa dalam kembangkan produk ke depannya,” ujar Arief di Investor Summit 2018 di Jakarta, Selasa (28/8). Continue reading “OJK rilis aturan perbankan digital, ini tanggapan bankir”

BCA dan BRI akan merilis layanan digital banking baru

KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Bankir berusaha memacu dana murah dan fee based dari digital banking dengan meluncurkan produk dan layanan baru di segmen ini.

Indra Utoyo, Direktur BRI mengatakan, BRI berencana meluncurkan produk digital banking baru pada semester II-2018. “Produk baru ini terkait dengan pinjaman mikro, ritel dan konsumer,” kata Indra kepada Kontan.co.id ketika ditemui, Kamis (23/8).

Dengan produk ini diharapkan bisa meningkatkan nasabah dan bisnis kredit mikro ritel dan konsumer. Produk baru digital banking ini diharapkan bisa mempunyai fitur personalisasi lebih bagus.

Nantinya produk digital banking ini juga mendukung teknologi omni channel. Fitur digital banking yang akan diluncurkan BRI ini juga akan menggunakan teknologi terbaru yaitu biometrik.

BRI mengatakan untuk produk digital banking ini BRI menganggarkan investasi sebesar Rp 500 miliar.

Selain BRI, BCA juga akan meluncurkan layanan digital banking baru. Produk digital banking ini nantinya akan mendukung transaksi perbankan di e-commerce. Continue reading “BCA dan BRI akan merilis layanan digital banking baru”

Bunga BI naik, margin bunga bersih bank akan menurun

KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Bankir mengakui bahwa ke depan margin bunga bersih atau net interest margin (NIM) perbankan akan menurun. Hal ini seiring kenaikan bunga acuan Bank Indonesia (BI).

Margin menurun ini karena dengan kenaikan bunga acuan maka bank harus menaikkan suku bunga deposito. Dengan naiknya bunga deposito ini maka biaya dana naik.

Karena transmisi kenaikan bunga deposito ke kredit cukup lama maka ini bisa mengurangi margin bank dalam jangka menengah.

Vera Eve Lim, Direktur Keuangan Bank Central Asia (BCA) bilang, penurunan margin ke depan tidak dapat dikendalikan. “Kami targetkan sampai akhir tahun bisa menjaga margin diangka yang sama,” kata Vera kepada kontan.co.id, Senin (27/8).

Untuk mengompensasi penurunun margin ini diperlukan alternatif pendapatan seperti pendapatan non bunga. Selain itu, penting bagi bank untuk melakukan efisiensi.

BCA mencatat, agar margin bisa dijaga maka cost to income ratio (CIR) harus dijaga diangka 44%. Sebagai gambaran saja sampai Juni 2018, NIM BCA sebesar 5,1%. Continue reading “Bunga BI naik, margin bunga bersih bank akan menurun”

NIM perbankan tergerus akibat bunga acuan naik, OJK: Bank harus lakukan efisiensi

KONTAN.CO.ID – JEMBER. Tren suku bunga yang terus naik pasca Bank Indonesia (BI) menaikkan bunga acuannya membuat margin bunga bersih alias net interest margin (NIM) perbankan sedikit tergerus.

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dalam statistik perbankan Indonesia (SPI) per Juni 2018 mencatat, posisi NIM perbankan ada di level 5,11%. Kendati masih cukup tinggi, posisi ini menurun dari capaian pada Juni 2017 yang sebesar 5,35%.

Bila dirinci, penurunan NIM ini utamanya lantaran pendapatan bunga bersih atau net interest income (NII) bank secara industri hanya tumbuh 3,88% secara tahunan atau year on year (yoy) menjadi Rp 350,33 triliun pada Juni 2018.

Ketua Dewan Komisioner OJK Wimboh Santoso mengatakan, penurunan NIM tersebut terbilang wajar lantaran perbankan tengah melakukan penyesuaian terhadap kenaikan suku bunga. Meski terlihat menyusut dibandingkan posisi paruh pertama tahun 2017 lalu, Wimboh menilai bank punya cara tersendiri untuk mengantisipasi hal tersebut diantaranya dengan menjaga efisiensi.

“Kebijakan kami (OJK) itu yang didorong peningkatan efisiensinya, terlepas suku bunga naik. Bank tetap bisa memberikan ruang bagi nasabah agar tidak memberatkan,” ujarnya saat ditemui di kantor Bupati Bondowoso, Jember, Senin (27/8).

Lebih lanjut, Wimboh menjelaskan walaupun tren suku bunga terus meningkat tidak akan menjadi masalah bila industri perbankan dapat efisien mengelola keuangannya. Disamping itu, pemanfaatan teknologi juga bisa menjadi salah satu langkah agar lebih efektif. Continue reading “NIM perbankan tergerus akibat bunga acuan naik, OJK: Bank harus lakukan efisiensi”

BI Indikasikan Perang Suku Bunga Makin Meluas

Warta Ekonomi.co.id, Manado –
Bank Indonesia (BI) menilai ada indikasi risiko perang suku bunga (monetary policy war) yang makin meluas di pasar global. Hal ini ditengarai oleh besarnya tendensi bank sentral di beberapa negara maju dan berkembang yang berlomba untuk menaikkan suku bunga acuannya.

Demikian yang dikatakan Kepala Divisi Asesmen Makro Ekonomi Departemen Kebijakan Ekonomi dan Moneter BI Fadjar Majardi saat Pelatihan Wartawan Ekonomi di Manado, Sulawesi Utara, Jumat (24/8/2018).

“Turki sudah hampir 1000 basis poin (bps), ke depan Filipina dan India akan meningkatkan suku bunga di triwulan ketiga dan Korea Selatan di triwulan keempat,” ujar Fadjar, di. Manado, Jumat (24/8/2018).

Tidak hanya negara berkembang, negara maju lainnya juga akan ikut menaikkan suku bunganya, diantaranya adalah Kanada dan Swedia pada Oktober dan Norwegia pada Desember 2018.

Indikasi meluasnya perang suku bunga kebijakan antar bank sentral di dunia ini menjadi salah satu dasar mengapa BI berkomitmen menerapkan kebijakan yang front loading, preemptive dan ahead the curve. Salah satunya ialah menaikkan suku bunga acuannya sebesar 25 bps menjadi 5,5% pada bulan ini. Continue reading “BI Indikasikan Perang Suku Bunga Makin Meluas”

LPS: Pembersihan NPL selesai, kenaikan bunga acuan tak banyak berefek ke pencadangan

KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Bank Indonesia (BI) pada pekan lalu telah menaikkan suku bunga acuan 25 basis poin (bps) menjadi 5,5%. Dengan kenaikan ini maka dari awal 2018 ini makan kenaikan bunga acuan BI sudah mencapai 125 bps.

Bankir dan regulator memproyeksi kenaikan bunga ini akan berpengaruh ke peningkatan risiko kredit terutama sektor konsumer ritel.

Namun, Halim Alamsyah, Ketua Dewan Komisioner LPS mengatakan, kenaikan bunga acuan diperkirakan tidak banyak mempengaruhi NPL, pencadangan, restrukturisasi dan hapus buku bank.

“Karena bank rata rata sudah selesai dalam pembersihan NPL dalam dua tahun ini,” kata Halim kepada kontan.co.id, Jumat (24/8).

Tren NPL menurut LPS masih terus membaik. Apalagi ekonomi Indonesia diprediksi akan tumbuh sedikit lebih tinggi dari tahun lalu dan tahun 2019 juga demikian.

Sebagai gambaran saja, berdasarkan catatan kontan.co.id, sampai Juni 2018, tren restrukturisasi kredit dan hapus buku bank besar masih naik.

Selain itu sampai Juni 2018 bank juga masih mencatat kenaikan jumlah pencadangan. Continue reading “LPS: Pembersihan NPL selesai, kenaikan bunga acuan tak banyak berefek ke pencadangan”

Segmen komersial menyumbang banyak kredit bermasalah bank

KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Rasio kredit bermasalah atau non performing loan (NPL) perbankan masih masih cukup besar di sumbang oleh segmen kredit komersial.

Lihat saja, beberapa bank besar seperti Bank Mandiri mencatat NPL kredit menengah korporasi terbilang tinggi. Sampai kuartal II-2018, NPL kredit menengah korporasi perseroan ini mencapai 10,55% atau naik dibandingkan posisi kuartal I-2018 yang di level 10,48%.

Bank Tabungan Negara (BTN) juga mencatat kredit komersial terbilang tinggi sebesar 6,62% per kuartal II-2018 lalu. Meskipun angkanya menurun dibandingkan periode yang sama di tahun 2017 sebesar 9,28%.

Bank BNI juga mengalami kenaikan rasio NPL di kredit komersial. Tercatat per kuartal II-2018 kredit menengah bank berlogo angka 46 ini berada di level 2,7%. Namun, bila dibandingkan kuartal sebelumnya. BNI mampu menurunkan NPL dari level 3,1%.

Direktur Keuangan BNI Anggoro Eko Cahyo mengatakan, ke depan pihaknya tetap akan mendorong seluruh segmen kredit sebagai amunisi penggerak bisnis BNI. Saat ini BNI sudah berhasil menanggulangi risiko kredit di tengah gejolak ekonomi domestik, regional dan global yang belum stabil. “Pendekatan BNI adalah agresif antisipatif dalam menjaga kualitas aset,” katanya, Minggu (19/8). Continue reading “Segmen komersial menyumbang banyak kredit bermasalah bank”