BI Pastikan Terus Intervensi Pergerakan Rupiah

Jakarta, CNN Indonesia — Bank Indonesia (BI) memastikan akan terus melakukan intervensi guna menstabilkan pergerakan nilai tukar rupiah yang hampir menyentuh Rp14.500 per dolar Amerika Serikat (AS).

Gubernur BI Perry Warjiyo mengungkapkan salah satu bentuk intervensi yang akan dilakukan BI dengan pembelian surat berharga negara (SBN) di pasar sekunder yang dilepas oleh investor asing.

“BI terus ada di pasar melakukan langkah-langkah stabilitas di pasar valuta asing (valas) untuk melakukan stabilisasi nilai tukar rupiah, baik melalui intervensi di pasar valas maupun pembelian SBN di pasar sekunder,” kata Perry, Selasa (3/7).

Selain membeli SBN yang dijual oleh investor asing, Perry mengklaim BI juga intervensi dalam proses lelang SBN di pasar sekunder. Hal itu dilakukan agar imbal hasil (yield) SBN tetap menarik bagi investor, khususnya investor asing. Continue reading “BI Pastikan Terus Intervensi Pergerakan Rupiah”

Inflasi Lebaran Rendah, THR Dinilai Jadi Salah Satu Faktornya

Bisnis.com, JAKARTA – Data inflasi Juni 2018 sebesar 0,59% yang lebih rendah dari musim Lebaran 2017 dan 2016 dimaknai beragam. Pemerintah optimistis daya beli membaik karena terjaganya tingkat inflasi tersebut.

Adriyanto, Pusat Kebijakan Ekonomi Makro Kementerian Keuangan (Kemenkeu), mengungkapkan optimismenya.

Terjaganya inflasi di level rendah, menurutnya, bukan berarti konsumsi yang melambat, bahkan perkiraannya konsumsi dan daya beli membaik.

“Tentu [rendahnya] tingkat inflasi ini karena upaya pemerintah dan Bank Indonesia dalam kebijakan inflasi. Inflasi inti masih lebih kurang sama dengan bulan sebelumnya,” ungkapnya kepada Bisnis, Senin (27/2018).

Menurutnya, dengan terjaganya inflasi, daya beli masyarakat akan menguat sehingga pada akhirnya dapat mendorong konsumsi masyarakat.

Adriyanto pun optimis pertumbuhan konsumsi rumah tangga di kuartal II/2018 berada di kisaran 5,2%-5,4%. Continue reading “Inflasi Lebaran Rendah, THR Dinilai Jadi Salah Satu Faktornya”

Menkeu: Investasi yang paling tertekan

KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Pengetatan kebijakan moneter akan berdampak ke pertumbuhan ekonomi. Kenaikan suku bunga akan memberi tekanan terhadap investasi yang menjadi salah satu sumber utama pertumbuhan ekonomi.

Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengatakan, komponen pertumbuhan ekonomi yang paling mendapat tekanan saat ini adalah dari sisi investasi. Sebab, selain kenaikan bunga, ada faktor lainnya yang menambah tekanan pada investasi.

“Yang akan mendapatkan tekanan paling besar dari adanya tekanan global ini adalah investasi, karena dia akan dapat tekanan suku bunga naik. Selain itu bahan baku dan barang modal yang meningkat harganya,” ujarnya di Gedung DPR RI, Senin (2/7).

Ia melanjutkan, meski BI melakukan pengetatan kebijakan moneter, pemerintah berharap investasi yang sekarang ini sudah tumbuh mendekati 8% bisa terjaga momentumnya. Harapannya investsai tetap tumbuh 8% pada tahun ini. “Caranya bagaimana? Walaupun suku bunga naik, BI lakukan relaksasi di sisi kredit, OJK akan lihat space-nya dalam perbankan, dan kami berikan insentif investasi. Itu semuanya supaya kami semua bisa lindugi momentum investasi supaya walau dia hadapi berbagai tekanan, dia tetap bisa dapat kompensasi dari pemerintah,” kata Sri Mulyani. Continue reading “Menkeu: Investasi yang paling tertekan”

Implementasi OSS, Pengusaha Ragukan Kesiapan Pemerintah Daerah

Bisnis.com, JAKARTA – Pemerintah melalui Kementerian Koordinator (Kemenko) Bidang Perekonomian dalam waktu dekat akan merilis online single submission (OSS). Program yang memberikan kemudahan bagi investor untuk mengurus izin secara online dan satu pintu.

Program ini merupakan terobosan yang dilakukan pemerintah dalam rangka memangkas proses perizinan yang selama ini dianggap menjadi salah satu alasan investor sulit berinvestasi di Indonesia.

Pro kontra terjadi, program ini sempat dinilai ambisius oleh Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) sebagai program yang sangat ambisius. BKPM sebagai penyelenggara oss yang tercantum dalam Peraturan Pemerintah no 24 Tahun 2018 tentang Pelayanan Perizinan Berusaha Terintegrasi secara Elektronik pun mengaku tidak siap menjadi pelaksana.

Walhasil, pemerintah menunjuk Kemenko Perekonomian sebagai pelaksana sementara dan BKPM diberi waktu 6 bulan untuk menyiapkan diri.

Di sisi lain, dunia usaha pun turut menyangsikan program ini akan berjalan baik. Shinta W. Kamdani, Wakil Ketua Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia, mengungkapkan hal itu kepada Bisnis. Continue reading “Implementasi OSS, Pengusaha Ragukan Kesiapan Pemerintah Daerah”

Dorong ekonomi, pemerintah pilih jaga kredibilitas APBN dan reformasi struktural

KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Pemerintah diminta berbuat sesuatu melalui kebijakan fiskal untuk mendorong perekonomian, utamanya memperlebar defisit anggaran dalam APBN 2018 menjadi 2,5% dari Produk Domestik Bruto (PDB).

Sebab, pelonggaran Loan to Value Ratio (LTV) untuk sektor properti yang dilakukan Bank Indonesia (BI) dinilai sulit mengompensasi kenaikan bunga acuan (BI7DRRR) sebesar 50 basis points (bps) di Juni.

Kepala Badan Kebijakan Fiskal (BKF) Kementerian Keuangan (Kemkeu) Suahasil Nazara mengatakan, pemerintah mendukung kenaikan bunga acuan sebagai upaya BI melakukan stabilisasi, khususnya nilai tukar rupiah. Pemerintah lanjut dia, akan terus memperhatikan dampak kebijakan moneter tersebut terhadap sektor riil.

“Seberapa cepat transmisi ke kenaikan suku bunga domestik dan imbas ke pertumbuhan investasi juga menjadi fokus perhatian. Sejauh ini, bank-bank besar sepertinya masih juga mengamati situasi yang terjadi,” kata Suahasil kepada Kontan.co.id, Minggu (1/7). Continue reading “Dorong ekonomi, pemerintah pilih jaga kredibilitas APBN dan reformasi struktural”

Defisit anggaran perlu direlaksasi untuk kompensasi kenaikan bunga

KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Keputusan Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia (BI) yang digelar pada 28-29 Juni 2018 cukup mengejutkan. Tak tanggung-tanggung, BI memutuskan untuk menaikkan BI 7-Day Reverse Repo Rate (BI7DRRR) sebesar 50 basis points (bps) langsung menjadi 5,25%.

Kenaikan suku bunga tersebut dikhawatirkan akan berdampak pada perekonomian. Tapi BI menyiapkan langkah lain, yaitu dengan melakukan relaksasi Loan to Value Ratio (LTV) guna menjaga momentum pemulihan ekonomi dan stabilitas sistem keuangan.

Pelonggaran yang dimaksud, berupa pelonggaran rasio LTV untuk kredit properti dan rasio FTV untuk pembiayaan properti, pelonggaran jumlah fasilitas kredit atau pembiayaan melalui mekanisme inden, dan penyesuaian pengaturan tahapan dan besaran pencairan kredit.

Meski demikian, Tony Prasetiantono, Kepala Pusat Studi Ekonomi dan Kebijakan Publik di Universitas Gajah Mada (UGM) menilai, pelonggaran LTV tersebut belum cukup mampu mengompensasi kenaikan bunga sebesar 50 bps tersebut. Continue reading “Defisit anggaran perlu direlaksasi untuk kompensasi kenaikan bunga”

Kenaikan suku bunga acuan BI relatif agresif

KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia (RDG BI) pada 28-29 Juni menaikkan suku bunga acuan sebesar 50 basis poin (bps) menjadi 5,25%. Suku bunga deposit facility (DF) dan lending facility (LF) juga naik 50 bps menjadi 4,5% dan 6%.

Kenaikan BI 7-day reverse repo rate (BI7DRRR) kali ini terbilang agresif dan melebihi proyeksi sejumlah kalangan. Sebab, para ekonomi dan pelaku pasar memprediksikan BI akan menaikkan bunga acuan sebesar 25 bps.

Oleh karena itu, kenaikan bunga acuan sebesar 50 bps semakin menunjukkan upaya bank sentral memperketat kebijakan moneter. Hanya dalam kurun waktu dua bulan, BI mendongkrak suku bunga acuan total sebesar 100 bps. “Keputusan kenaikan suku bunga acuan tersebut merupakan langkah lanjutan BI untuk menjaga daya saing pasar keuangan domestik terhadap perubahan kebijakan moneter sejumlah negara, dan ketidakpastian pasar keuangan global yang masih tinggi,” kata Perry Warjiyo, Gubernur BI usai RDG kemarin. Continue reading “Kenaikan suku bunga acuan BI relatif agresif”

Rupiah Melempem terhadap Dolar, Darmin Puji Langkah BI

Warta Ekonomi.co.id, Jakarta –
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution menyambut baik kenaikan suku bunga acuan “7-Day Reverse Repo Rate”, hingga 50 basis poin menjadi 5,25 persen, sebagai langkah antisipasi untuk membendung tekanan global yang berimbas pada ambruknya nilai tukar rupiah terhadap dolar.

“Kalau soal harus naik, semua orang sudah tahu. Tidak ada cara lain. Tidak naik, ketinggalan. Orang lain naik, itu akan membuat capital flight. Kami sambut apa yang dilakukan BI,” kata Darmin di Jakarta, Jumat (29/6/2018).

Darmin meyakini kenaikan suku bunga acuan tersebut untuk merespons berbagai perkembangan dunia saat ini mulai dari kenaikan suku bunga The Fed, potensi perang dagang dan kondisi geopolitik terkini. Berbagai tekanan global tersebut telah menjadi alasan terjadinya perlemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS maupun penurunan kinerja Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dalam beberapa minggu terakhir. Continue reading “Rupiah Melempem terhadap Dolar, Darmin Puji Langkah BI”

Kenaikan bunga acuan 25 bps cukup, jika rupiah tak melebihi Rp 14.200

KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Kepala Pusat Studi Ekonomi dan Kebijakan Publik di Universitas Gajah Mada (UGM) Tony Prasetiantono juga menilai, kenaikan bunga acuan Bank Indonesia (BI 7-Day Reverse Repo Rate) cukup dengan kondisi pelemahan rupiah yang terjadi.

Tony bilang, nilai tukar rupiah mencapai Rp 14.404 per dollar Amerika Serikat (AS) berdasarkan data Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) hari ini, Jumat (29/6). Level itu, jauh melampaui level yang mencerminkan level fundamental sebesar Rp 14.000 per dollar AS.

“Tadinya jika rupiah hanya Rp 14.200 per dollar AS, saya pikir kenaikan 25 bps sudah cukup. Tapi ini kan Rp 14.400 per dollar AS,” kata Tony kepada Kontan.co.id.

Menurutnya, rupiah tidak saja di bawah tekanan perang dagang antara AS dan China, tetapi juga kenaikan harga minyak yang mencapai US$ 77 per barel. Hal itu, “Telah menyudutkan kredibilitas fiskal kita,” tambahnya. Continue reading “Kenaikan bunga acuan 25 bps cukup, jika rupiah tak melebihi Rp 14.200”

BI kerek bunga acuan 50 bps, Ekonom: Masuk akal

KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Bank Indonesia (BI) akhirnya kembali menaikkan bunga acuan (BI 7-Day Reverse Repo Rate) dalam rapat dewan gubernur (RDG) bulan ini.

Tak tanggung-tanggung, kenaikan BI mengerek bunga acuannya hingga 50 basis points (bps) menjadi 5,25%. Artinya, dalam kurun waktu dua bulan, BI telah menaikkan bunga acuan hingga 100 bps.

Ekonom Bank Permata Josua Pardede mengatakan, besaran kenaikan bunga acuan itu masuk akal. Hal ini lantaran adanya risiko global yang mendominasi, utamanya dari tiga hal.

Pertama, normalisasi kebijakan moneter AS. Setelah memberikan sinyal kenaikan fed fund rate (FFR) sebanyak tiga kali di sepanjang 2018, perkiraan kenaikan tersebut lebih agresif, menjadi empat kali. Kedua, adanya perang dagang antara Amerika Serikat (AS) dan China.

“Kalau saja tidak ada isu perang dagang, saya pikir kenaikan 25 bps saja cukup,” kata Josua kepada Kontan.co.id, Jumat (29/6). Continue reading “BI kerek bunga acuan 50 bps, Ekonom: Masuk akal”