Begini rencana pengembangan digitalisasi dari bank pelat merah

KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Kondisi pandemi Covid-19 telah membuat sektor digital perbankan bergerak lebih cepat untuk beradaptasi dengan keadaan. Seiring dengan berkurangnya mobilitas masyarakat, teknologi di sektor perbankan mengambil perannya untuk tetap dapat mengakomodasikan kebutuhan nasabah kala situasi sulit ini.

PT Bank Mandiri (Persero) Tbk misalnya, yang juga mengamini pada tahun ini perkembangan digital sangatlah luar biasa. “Kalau dulu kita bicara digital itu pertumbuhannya cepat, sekarang itu menjadi sangatlah cepat. Bank Mandiri sudah benar-benar memikirkan hal ini, tapi juga tetap di-adjust lantaran perkembangannya yang sangat pesat,” ujar Direktur Information Technology Bank Mandiri, Timothy Utama dalam pertemuan virtual paparan kinerja pada Kamis (29/7).

Continue reading “Begini rencana pengembangan digitalisasi dari bank pelat merah”

PSAK 71 diterapkan, biaya kredit bank dipastikan turun tahun ini

KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Pasca aturan main pedoman standar akuntansi keuangan (PSAK) 71 diterapkan, pencadangan perbankan menjadi lebih solid. Namun, hal ini juga membuat biaya kredit alias cost of credit (Coc) juga ikut terkerek naik.

Meski begitu, ada pula beberapa bank yang telah mempersiapkan implementasi PSAK 71 sejak lama. Hal ini tentunya membuat rasio CoC menjadi lebih stabil. Di sisi lain, sederet perbankan yang dihubungi Kontan.co.id, meyakini bahwa biaya kredit di tahun ini dipastikan bakal mulai melandai.

PT Bank Negara Indonesia Tbk (BNI) misalnya yang pada akhir 2019 lalu mencatatkan CoC meningkat 0,2% secara tahunan menjadi 1,6%. Wakil Direktur Utama BNI Herry Sidharta mengamini kalau pembentukan cadangan dalam rangka penerapan PSAK 71 memang mempengaruhi pembentukan CoC.

Namun, menurutnya hal ini sudah lebih dulu diperhitungkan oleh BNI. “Ini sejalan dengan ketentuan PSAK, di mana pada saat awal pembentukan tambahan CKPN masuk dalam retained earning,” katanya kepada Kontan.co.id, Selasa (28/1).

Continue reading “PSAK 71 diterapkan, biaya kredit bank dipastikan turun tahun ini”

Bunga deposito tertinggi BCA 4,63%, BRI 5,75%, BNI 5,75% dan Bank Mandiri 5,63%

KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Ingin menyimpan dana di deposito di bank besar? Silakan timbang penawaran bunga deposito di empat bank besar ini, yakni Bank Central Asia (BCA), Bank Mandiri, Bank Negara Indonesia (BNI) dan Bank Rakyat Indonesia (BRI).

Berdasarkan data Pusat Informasi Pasar Uang (PIPU) per 20 Januari 2020, diantara empat bank besar tersebut, bunga deposito BRI yang paling tinggi di semua tenor deposito.

Di deposito tenor 1 bulan, bunga deposito Bank BRI tercatat 5,38%. Di tenor ini paling rendah bunga deposito BCA dan Bank Mandiri yakni sebesar 4,5%.

Lalu di deposito tenor 3 bulan, Bank BRI dan BNI sama-sama memasang bunga deposito paling tinggi yakni sebesar 5,75%.

Continue reading “Bunga deposito tertinggi BCA 4,63%, BRI 5,75%, BNI 5,75% dan Bank Mandiri 5,63%”

Waspadalah, kejahatan siber masih mengancam nasabah bank

KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Perbankan terus berlomba berinovasi sebagai adaptasi atas perubahan di tengah perkembangan teknologi. Solusi layanan digital kian digali untuk memberi kemudahan bagi nasabah bertransaksi. Kemudahan sudah jadi kunci bagi bank agar bisa bertahan dalam kompetisi.

Lantas, layanan transaksi pun serba online saat ini. Boleh dibilang semua layanan keuangan bisa dilakukan hanya lewat gawai. Namun diantara kepraktisan yang kita dapat, konsekuensi kejahatan siber juga kian mengancam.

Lalu sudah sesiap apa bank di tanah air menghadapi ancaman siber dan melindungi data nasabahnya?

Baru-baru ini, kasus dugaan pembobolan rekening digital nasabah Bank BTPN viral di media sosial. Pengguna instragram lewat akun @Wisnukumoro mengaku isi rekeningnya di Jenius raib pada 29 Agustus 2019 yang ia duga akibat ulah peretas.

Pembobolan diketahui berawal dari pesan masuk ke ponselnya berisi kode verifikasi untuk masuk ke akun. Permintaan lantas ia tolak. Merasa curiga, akun kemudian ia blokir tetapi tidak berhasil. Si peretas tetap bisa masuk dan menguras habis isi rekening secara bertahap.

Continue reading “Waspadalah, kejahatan siber masih mengancam nasabah bank”

Peresmian LinkAja kembali ditunda, ada apa?

KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Setelah beberapa kali mundur dari jadwal, peresmian LinkAja kembali ditunda. Kali ini, Himpunan bank-bank milik negara (Himbara) akan meluncurkan LinkAja pada awal Juni 2019.

“Rencananya (peluncuran LinkAja) setelah lebaran. Bukan karena belum siap, tetapi memang ingin diluncurkan secara besar-besaran,” ujar Rohan Hafas, Sekretaris Perusahaan PT Bank Mandiri Tbk Minggu (5/5).

Meski begitu, Rohan bilang, sejatinya LinkAja telah berjalan sejak awal Februari 2019. Bahkan, menurutnya Bank Mandiri telah mengalihkan pengguna uang elektronik berbasis server miliknya yakni e-cash ke platform LinkAja.

“Sudah ada 5 juta pengguna yang migrasi, semua teknisnya sudah siap,” imbuhnya. Continue reading “Peresmian LinkAja kembali ditunda, ada apa?”

Menyoal Tukar Guling Aset Antara Muamalat dan Lynx Asia

Bisnis.com, JAKARTA – Lynx Asia, perusahaan penasehat keuangan dan investasi asal Singapura, menjadi penghubung perusahaan cangkang atau special purpose vehicle (SPV) melakukan tukar guling aset dengan PT Bank Muamalat Indonesia Tbk.

SPV tersebut membenamkan surat utang senilai Rp8 triliun, sedangkan aset bermasalah yang ditukar Muamalat senilai Rp6 triliun.

Menurut sumber Bisnis, Muamalat merogoh kocek sebesar Rp2 triliun untuk membayar selisih surat utang dengan aset bermasalah. Masih dari investor yang sama, mereka akan menjadi standby buyer atau pembeli siaga penerbitan sukuk Muamalat.

Namun, tidak semua duit tunai tersebut dipakai untuk beli sukuk. “Sebesar Rp1,6 triliun untuk beli sukuk Muamalat,” ujar sumber tersebut, Selasa (10/7/2018).

Yang menjadi pertanyaan dalam tukar guling aset ini adalah kualitas obligasi yang diberikan ke Muamalat. Belum lagi, ungkap sumber itu, Muamalat tidak menerima kupon, sehingga aset sebesar Rp8 triliun tidak menghasilkan. Continue reading “Menyoal Tukar Guling Aset Antara Muamalat dan Lynx Asia”

Menanti Babak Baru Restrukturisasi Keuangan Bank Muamalat

Bisnis.com, JAKARTA – Restrukturisasi aset bermasalah dan penambahan modal PT Bank Muamalat Indonesia Tbk. memasuki babak baru. Titik terang mulai terlihat setelah perusahaan investasi Lynx Asia, memfasilitasi masuknya investor di bank syariah pertama di Indonesia itu.

Restrukturisasi keuangan menjadi tema headline koran Bisnis Indonesia edisi Rabu (11/7/2018). Berikut laporan selengkapnya.

Sebelum kedatangan Lynx, rencana penambahan modal Muamalat beberapa kali tertunda. Padahal, tahun lalu, PT Minna Padi Investama Sekuritas Tbk. sempat menyatakan bersedia menjadi pembeli siaga 51% saham Muamalat melalui penawaran saham terbatas dengan taksiran dana Rp4,5 triliun.

Bahkan, sebagai bukti keseriusan, Minna Padi sempat menyetorkan dana di rekening penampung sebesar Rp1,7 triliun. Namun, rencana itu batal. Otoritas Jasa Keuangan tidak memberikan restu digelarnya rights issue karena tidak ada kejelasan sumber dana dari aksi korporasi tersebut.

Minna Padi pun urung mengakuisisi Muamalat. Mereka pun menawarkan diri sebagai fasilitator. Namun, peran sebagai fasilitator itu tak jelas hingga saat ini. Continue reading “Menanti Babak Baru Restrukturisasi Keuangan Bank Muamalat”