Sri Mulyani Ungkap Setoran Pajak di Bawah Prediksi Awal

Jakarta, CNN Indonesia — 

Menteri Keuangan Sri Mulyani mengakui jika penerimaan perpajakan jatuh lebih dalam dari prediksi di awal. Mulanya, ia memprediksi penerimaan perpajakan turun 10 persen akibat covid-19.

Namun, ternyata penerimaan perpajakan per akhir Agustus 2020 lalu sudah anjlok 15,6 persen dari periode yang sama tahun lalu.

“Sekarang ini untuk Indonesia, awalnya kami prediksi hanya minus 10 persen, tapi sekarang mendekati kontraksi 15 persen dari penerimaan perpajakan,” ujarnya dalam 7th OECD Forum on Green Finance Investment secara virtual, Jumat (9/10).

Ia mengungkapkan untuk menangani dampak covid-19, pemerintah menaikkan belanja negara untuk dukungan bagi sektor kesehatan, perlindungan sosial, hingga usaha. Di sisi lain, pendapatan negara turun signifikan karena aktivitas ekonomi terbatas akibat pandemi.

Seperti diketahui, pemerintah menggelontorkan dana untuk program Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN) mencapai Rp695,2 triliun. Per 7 Oktober 2020, realisasinya mencapai Rp318,5 triliun, atau 45,8 persen dari pagu anggaran.

“Jadi, kami memiliki kombinasi antara penurunan pendapatan dan peningkatan belanja dan itulah mengapa defisit pasti akan melebihi 3 persen,” tuturnya.

Oleh sebab itu, ia memprediksi defisit anggaran melebar menjadi 6,3 persen tahun ini, atau lebih besar dari prediksi sebelumnya hanya 1,7 persen. Pelebaran defisit ini diatur melalui Perppu No 1 Tahun 2020 yang telah disahkan menjadi undang-undang.

“Seberapa besar defisitnya? Tahun ini akan meningkat secara signifikan menjadi 6,3 persen dari mulanya 1,7 persen,” ucapnya.

Untuk diketahui, penerimaan pajak hingga akhir Agustus 2020 hanya Rp676,9 triliun. Realisasi itu anjlok 15,6 persen dari periode yang sama tahun lalu sebesar Rp802,5 triliun.

Sri Mulyani menjelaskan faktor pertama yang membuat penerimaan pajak turun adalah pajak penghasilan (PPh) dari minyak dan gas (migas). Tercatat, penerimaan dari PPh migas hingga akhir Agustus 2020 hanya Rp21 triliun atau turun 45,2 persen dari Agustus 2019 yang sebesar Rp39,5 triliun.

“Yang sumbangkan penurunan cukup dalam adalah migas,” ujarnya beberapa waktu lalu.

Sumber: Klik Disini

BPS: Neraca dagang April 2020 defisit US$ 0,35 miliar

KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Neraca perdagangan April 2020 rupanya mengalami defisit. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, defisit pada bulan tersebut sebesar US$ 0,35 miliar. Ini disebabkan oleh nilai ekspor yang lebih rendah daripada nilai impor pada bulan April 2020.

BPS pun memerinci, nilai ekspor pada bulan April 2020 tercatat sebesar US$ 12,92 miliar. Sementara nilai impor sebesar US$ 12,54 miliar.

“Namun, kalau dilihat, defisit pada April 2020 ini masih lebih bagus bila dibandingkan dengan April 2019 yang saat itu defisit US$ 2,3 miliar. Ini lebih landai,” kata Kepala BPS Suhariyanto, Jumat (15/5).

Meski pada bulan April mengalami defisit, neraca dagang periode Januari 2020 – April 2020 menunjukkan hal sebaliknya, yaitu mengalami surplus US$ 2,25 miliar. Hal ini disebabkan oleh nilai impor kumulatif yang masih lebih kecil dibandingkan dengan nilai ekspor kumulatif.

Continue reading “BPS: Neraca dagang April 2020 defisit US$ 0,35 miliar”

Menyempit, BPS catat defisit neraca dagang Indonesia 2019 mencapai US$ 3,19 miliar

KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Neraca perdagangan Indonesia pada Desember 2019 defisit sebesar US$ 28,2 juta. Agka ini turun dari periode yang sama tahun 2018 yang sebesar US$ 1,07 miliar. Sementara itu, sepanjang 2019 defisit neraca perdagangan Indonesia mencapai US$ 3,19 miliar, turun dari periode yang sama tahun 2018 yang sebesar US$ 8,69 miliar.

Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Suhariyanto mengatakan, defisit neraca dagang sepanjang 2019 disebabkan oleh defisit pada neraca migas sebesar US$ 9,3 miliar. Sementara itu, neraca perdagangan non migas surplus sebesar US$ 6,39 miliar.

Meski begitu, bila dibandingkan tahun 2018 defisit neraca migas tahun 2019 sudah semakin mengecil. Pada tahun 2018, defisit neraca perdagangan migas mencapai US$ 12,69 miliar. Sementara di sisi non migas, tercatat surplus sebesar US$ 3,99 miliar.

Sumber: Klik Disini

Bank syariah catatkan perbaikan rasio pembiayaan bermasalah

KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Perbankan syariah terus berupaya menjaga kualitas asetnya. Sepanjang kuartal I 2019, sebagian besar bank berhasil mencatatkan perbaikan rasio pembiayaan bermasalah atau Non Performing Finance (NPF).

PT Bank Syariah Mandiri, salah satu bank yang sukses mencatatkan perbaikan kualitas aset. NPF perseroan sudah mendekati 3% di triwulan I 2019, turun dari level 3,8% pada Desember 2018.

“NPF kami masih sedikit di atas 3% dan ini cukup merata di semua sektor. Namun, yang tertinggi ada di pembiayaan-pembiayaan yang sudah lama salah satunya di sektor pertambangan.” jelas Direktur Bank Syariah Mandiri Putu Rahwidhiyasa pada Kontan.co.id, Jumat (3/5). Continue reading “Bank syariah catatkan perbaikan rasio pembiayaan bermasalah”

Utang pemerintah hingga akhir Agustus Rp 4.363,19 triliun

KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Posisi utang pemerintah hingga akhir Agustus 2018 tercatat sebesar Rp 4.363,19 triliun. Jumlah itu naik Rp 110 triliun dibanding posisi akhir bulan sebelumnya.

Sehingga, “Rasio utang pemerintah per akhir Agustus menjadi 30,31% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB),” kata Direktur Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko Kementerian Keuangan (Kemkeu) Luky Alfirman, Jumat (21/9).

Catatan Kemkeu, posisi utang tersebut terdiri dari surat berharga negara (SBN) mencapai 81,18%, lebih besar dibandingkan tahun lalu yang sebesar 80,71% dari total outstanding.

Kenaikan itu, sejalan dengan strategi pemerintah untuk melakukan pendalaman pasar obligasi, mengingat posisi Indonesia yang sudah naik kelas menjadi middle income country yang tidak lagi memperoleh pinjaman lunak (konsesional).

Berdasarkan sumber SBN, komposisi dalam valas naik ke angka 23,84% terhadap total utang, dari yang sebelumnya sebesar 22%. Sedangkan dalam rupiah mencapai 57,28%, dari periode yang sama tahun lalu sebesar 58,71%.

“Faktor eksternal seperti penurunan mata uang rupiah terhadap mata uang asing lainnya terutama dollar Amerika Serikat (AS), mempengaruhi besaran outstanding utang untuk bulan Agustus ini,” terang Kemkeu. Continue reading “Utang pemerintah hingga akhir Agustus Rp 4.363,19 triliun”

Hingga Agustus, APBN 2018 defisit Rp 150 triliun

KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2018 defisit sebesar Rp 150 triliun hingga 31 Agustus 2018. Defisit anggaran ini lebih rendah dibandingkan periode sama tahun lalu tang sebesar Rp 220 triliun.

Defisit anggaran yang lebih baik tersebut lantaran pendapatan negara hingga akhir bulan lalu mampu tumbuh 18,4% secara tahunan menjadi sebesar Rp 1.152,7 triliun. Realisasi pendapatan negara ini setara 60,68% dari target dalam APBN 2018 yang sebesar Rp 1.894,7 triliun.

Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dollar AS adalah salah satu penyebab meningkatnya pendapatan negara. Berdasarkan data Kementerian Keuangan, rata-rata kurs rupiah sejak awal tahun ini hingga 7 September 2018 mencapai Rp 13.977 per dollar AS, di atas asumsi makro dalam APBN 2018 yang sebesar Rp 13.400 per dollar AS.

Di sisi lain, realisasi belanja negara hingga akhir bulan lalu hanya tumbuh 8,8% (yoy). Pertumbuhan belanja negara ini lebih tinggi dari periode yang sama tahun lalu sebesar 5,6% (yoy).

“Jadi belanja negara cukup tinggi, tapi penerimaan negara tumbuhnya juga lebih tinggi,” kata Menteri Keuangan Sri Mulyani di Gedung DPR RI, Senin (10/9).

Selain itu, keseimbangan primer atau primary balance di akhir bulan lalu mulai mencatatkan surplus Rp 11,5 triliun, lebih tinggi dari periode yang sama tahun lalu yang defisit Rp 84 triliun. Continue reading “Hingga Agustus, APBN 2018 defisit Rp 150 triliun”

Pertengahan Agustus, penerimaan pajak lampaui setengah dari target

KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Direktorat Jenderal (Ditjen) Pajak mencatat, penerimaan pajak hingga pertengahan Agustus 2018 sebesar Rp 760,57 triliun atau 53,41% dari target dalam APBN 2018 yang sebesar Rp 1.424 triliun.

Dirjen Pajak Robert Pakpahan mengatakan, dengan perolehan ini, maka penerimaan pajak tumbuh sebesar 15,49%. Namun, bila mengeluarkan faktor amnesti pajak, pertumbuhannya sebesar 17,63% secara tahunan.

“Pertumbuhannya per Juli kan 14,36% dan non-amnesti pajaknya tumbuh 16,69%. Per 20 Agustus masih tetap bagus,” kata Robert di Jakarta, Senin (23/8).

Ia melanjutkan, per jenis pajaknya, penerimaan pajak per 20 Agustus masih mencatatkan pertumbuhan secara konsisten. Penerimaan Pajak Penghasilan (PPh) non migas misalnya, tercatat sebesar Rp 432.2 triliun atau tumbuh 15,46% dari periode yang sama tahun lalu. Bila mengeluarkan tax amnesty (TA), penerimaan PPh non migas tumbuh 19,29%.

Sementara, untuk Pajak Pertambahan Nilai (PPN) dan Pajak Penjualan atas Barang Mewah (PPnBM) tercatat sebesar Rp 280,9 triliun atau tumbuh 15,2 % dari periode yang sama tahun sebelumnya. Continue reading “Pertengahan Agustus, penerimaan pajak lampaui setengah dari target”